Oleh: Abduh Zulfidar Akaha Pemilu sudah di depan mata. Polemik antara yang mengharamkan golput dan mengharamkan demokrasi terus bergulir, bahkan disampaikan dalam khutbah Jum’at yang saya saksikan sendiri. Satu pakem bagi saya yang selama ini tidak mau menyampaikan permasalahan khilafiyah atau polemik umat di khutbah Jum’at, kecuali jika bisa disampaikan secara adil, obyektif, dan proporsional. Beberapa waktu lalu, tepatnya Jum’at 6 Maret 2008, khatib memberikan materi yang cukup “berat”, yakni kewajiban golput. Bagi yang setiap hari setiap saat pergi ke masjid, hal ini bisa jadi tidak menjadi soal. Namun bagi mereka yang ke masjidnya hanya seminggu sekali pas shalat Jum’at saja, mungkin ini akan membingungkannya. Sekalinya ke masjid, langsung “disuguhi” sesuatu yang membuatnya bingung. Sesuatu yang berbeda dengan yang diketahui dan diyakininya selama ini; golput itu haram. Kembali pada sang khatib, dia mengatakan bahwa kita mesti “menghargai” fatwa MUI yang mewajibkan memilih pemimpin yang shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Jika ada pemimpin yang memiliki kriteria ini, maka kita wajib memilih dan haram golput. Sebaliknya, jika tidak ada pemimpin yang memenuhi kriteria shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah; maka mafhum mukhalafahnya adalah kita wajib golput. Dan, khatib pun mengisyaratkan bahwa saat ini tidak ada calon pemimpin yang memenuhi kriteria sebagaimana yang difatwakan oleh MUI. Dengan demikian, kita wajib golput! Saya sangat menyayangkan khutbah yang bermaterikan semacam ini. Bagaimanapun ini adalah khutbah Jum’at, bukan forum diskusi, dialog terbuka, atau ceramah umum yang memungkinkan hadirin untuk bertanya. Selain itu, ada beberapa catatan saya. Pertama; apa dasar dan bukti khatib menganggap bahwa tidak ada (calon) pemimpin yang memenuhi kriteria MUI. Kedua; jika tidak ada pemimpin yang memenuhi syarat, kenapa harus golput. Apakah dengan golput akan muncul pemimpin yang memenuhi syarat? Ketiga; jika tidak setuju pemilu, lalu cara seperti apa agar kita bisa mendapatkan pemimpin yang memenuhi kriteria? Keempat; apakah dengan cara yang ditawarkan tersebut, bisa dijamin bahwa akan terpilih pemimpin yang memenuhi kriteria? Dan kelima; jika terpilih seorang pemimpin menurut cara sang khatib, kriteria versi siapakah yang dipakai? Apakah pemimpin tersebut juga memenuhi kriteria menurut mereka yang tidak golput? Baiklah, katakanlah demokrasi itu mungkar –meski masih debatable–, dan tidak ada seorang pun muslim yang ikut pemilu karena pemilu itu haram. Kemudian sebagai konsekuensi logis, akan terpilih Presiden dan wakil presiden non-muslim, parlemen dikuasai non-muslim, pejabat-pejabat di instansi pemerintahan dikuasai non-muslim, dan aparat juga non-muslim. Lalu, apakah demokrasi itu akan otomatis hilang dan berganti dengan sistem Islam (catatan: tidak ada nash qath’i tentang sistem Islam dalam pemilihan pemimpin tertinggi)? Atau, apakah justru akan muncul kemungkaran yang lebih besar bahkan jauh lebih besar? Bukan tidak mungkin, jika negeri ini dikuasai oleh kaum kafir di segala lininya; aktifitas umat Islam akan dikekang dan serba terbatas serta menjadi budak di negeri sendiri. Jangankan di segala lini, ketika Turki dipimpin oleh Mustafa Kamal Ataturk yang seorang muslim sekular saja, umat Islam di sana tidak bisa berbuat banyak ketika kehidupan beragamanya dikebiri dan banyak simbol-simbol keislaman yang dihapus. Tidak cukupkah Khilafah Turki Utsmani sebagai pelajaran? Bukankah di antara mereka yang anti-demokrasi adalah mereka yang mendambakan khilafah? Lihat, di mana bekas kekuatan kaum muslimin di sana saat kekhilafahannya diruntuhkan? Apakah mereka mempunyai kekuatan untuk berontak? Padahal, kemarin sore mereka adalah orang-orang muslim militan yang sangat disegani kawan dan ditakuti lawan. Tapi, di mana kekuatan itu ketika khilafah jatuh? Subhanallah… itu baru seorang Mustafa Kamal. Bagaimana halnya jika Indonesia dikuasai oleh orang-orang kafir di segala lininya –sebagai konsekuensi logis tidak mau ikut pemilu–? Baiklah, katakanlah umat Islam di Indonesia sangat kuat, bersatu, dan berani. Sehingga, manakala pemerintahan dan parlemen Indonesia dikuasai orang-orang kafir, serta kezhaliman telah merajalela, mereka akan mengumandangkan jihad. Dan, terjadilah perang. Sungguh, jika ini yang diharapkan –sebagaimana yang kami dengar–, maka yang akan terjadi pada saat itu adalah pertumpahan darah antar-sesama muslim. Biaya jiwa dan materi yang dikeluarkan akan jauh lebih besar daripada ‘sekadar’ ikut pemilu. Itu belum termasuk hukum membunuh sesama muslim. Selanjutnya, katakanlah umat Islam berhasil menang dalam “jihad” tersebut. Lalu, siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin atau khalifah atau presiden Indonesia? Bagaimana caranya? Apakah dengan cara musyarawah atau “pemilu yang islami”? Bagaimana jika calon pemimpinnya tidak disetujui oleh sebagian kaum muslimin yang lain? Namun demikian, pendapat yang menyerukan jihad saat negara dikuasai orang kafir yang zhalim dan kondisi negara sangat amburadul serta tidak kondusif bagi umat Islam, masih lebih baik daripada kelompok lain yang juga menyerukan golput. Kelompok lain ini lebih ‘aneh’ lagi. Mereka mengharamkan demokrasi dan pemilu serta mengajak golput, tapi mereka menerima apa pun hasil pemilu. Saya katakan aneh, sebab manakala pemilu ini tidak diikuti oleh seorang muslim pun (karena demikian seruan mereka, mengajak golput) dan hanya diikuti orang-orang kafir, lalu menghasilkan pemimpin yang kafir, para menteri yang kafir, dan aparat negara yang juga kafir; mereka tetap menyatakan sami’naa wa atha’naa. Kalau pemilu saja dibid’ahkan, bagaimana halnya dengan ‘kebijakan-kebijakan’ pemerintah nanti yang notabene non-muslim? Bukankah yang bid’ah dan mungkar kelak bukan hanya pemilu saja? Apakah akan tetap sami’naa wa atha’naa dengan penguasa yang serba kafir? * * * Saya teringat kisah tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H) dan para prajurit Tartar yang minum minuman keras di tempat umum. Kisah ini diceritakan oleh muridnya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (w. 751 H), dalam kitabnya “A`lam Al-Muwaqqi’in” (bisa juga dibaca; I’lam Al-Muwaqqi’in) bab “Inkar Al-Munkar Arba’ Darajat” (Mengingkari kemungkaran ada empat tingkatan). Namun, sebelum saya kutipkan kisahnya, ada baiknya saya sebutkan dulu empat tingkatan ini : - Kemungkaran tersebut hilang dan digantikan dengan yang lebih baik.
- Meski tidak hilang secara keseluruhan, tetapi kemungkaran tersebut berkurang.
- Kemungkaran tersebut hilang, tetapi diganti dengan kemungkaran lain yang sama.
- Kemungkaran tersebut hilang, tetapi berganti menjadi kemungkaran yang lebih besar.
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dua tingkatan yang pertama adalah masyru’ (disyariatkan). Tingkatan ketiga adalah medan ijtihad. Dan, tingkatan yang keempat adalah haram.” Dikisahkan, bahwa pada masa pendudukan pasukan Tartar (Mongolia), ketika Ibnu Taimiyah berjalan-jalan bersama para sahabatnya, mereka melihat sebagian orang Tartar sedang minum minuman keras, mabuk-mabukan. Sebagian sahabat Ibnu Taimiyah mencela tindakan orang-orang Tartar itu dan hendak melarangnya. Namun Ibnu Taimiyah mencegah sebagian sahabatnya dan berkata, “Biarkan saja mereka. Sesungguhnya Allah melarang khamr itu karena ia dapat membuat orang lupa kepada Allah dan membuat orang tidak melakukan shalat. Tetapi orang-orang itu, dengan minum khamr, justru membuat mereka tidak membunuh, menawan orang, dan merampok harta benda rakyat. Jadi, biarkan saja mereka!” Perhatikanlah, bagaimana ulama besar sekaliber Ibnu Taimiyah (dan Ibnul Qayyim) yang dikenal sebagai tokoh terdepan anti-bid’ah, membiarkan orang-orang Tartar meminum khamr karena melihat bahwa lebih baik mereka minum khamr daripada mereka melakukan kemungkaran lain yang lebih besar. Dalam demokrasi ada kemungkaran. Kita akui itu. Tapi kita juga tidak bisa menafikan adanya kebaikan dalam demokrasi. Nah, dari sisi inilah kita masuk. Kita timbang manfaat dan madharatnya, sebagaimana Ibnu Taimiyah menimbang manfaat dan madharat saat beliau dan para sahabatnya menyaksikan orang-orang Tartar minum minuman keras. Manfaatnya, orang-orang Tartar itu paling banter akan berhenti dari kemungkaran minum khamr. Namun madharatnya, mereka akan melakukan kemungkaran yang jauh lebih besar daripada ‘sekadar’ minum. Mereka akan membunuh, menawan, dan merampok. Selain kaidah “inkarul munkar”, ada juga kaidah ushul fiqih yang mesti diperhatikan dalam masalah ini, yakni: al-akhdzu bi akhaffi adh-dhararain (mengambil risiko paling ringan di antara dua madharat) dan adh-dharar al-asyad yuzalu bi adh-dharar al-akhaf (menghilangkan madharat yang lebih besar dengan madharat yang lebih kecil). Sungguh, “kemungkaran” dan “madharat” dalam demokrasi dan pemilu jauh lebih kecil dibandingkan dengan risiko jika umat Islam tidak ikut pemilu. Maksud hati ingin mengatasi masalah kemungkaran dan madharat pemilu, namun sejatinya justru kita menanam benih masalah yang jauh lebih dahsyat kemungkaran dan madharatnya. Wallahu a’lam bish-shawab. * * *  | Subhannallah... GOLPUT memang akan mendatangklan mudharat yang lebih besar Saya juga bingung kenapa banyak sekali teman-teman baik di forum maupun di kehidupan sehari-hari yang memilih untuk Golput. walaupun diantaranya memang ada yg punya misi "Khilafah" tapi apakah mereka tidak berfikir jernih dan coba meninjau kembali apa akibatnya.
Sebaiknya ada penyadaran untuk mereka dan membuka mata. Golput menurut saya ada lah suatu pembodohan yang mana kita tidak menggunakan hak pilih kita. Sekarang ini gereja-gereja sudah menghimbau kewajiban umatnya untuk "TIDAK GOLPUT" malah menyebarkan ajakan untuk golput pada umat diluar agama mereka. Relakah kita kalau kaum kafir itu memimpin negeri ini?
Partai islam pun sekarang terpecah belah... Bila mereka "petinggi-petinggi" partai Islam itu Arif... bersatulah... tunjuklah satu diantaranya sebagai pemimpin. Dan kita sebagai warga negara, pilihlah salah satu diantara mereka dengan hati nurani.
SAY NO TO GOLPUT |
 | Ayo memilih...pilihlah yang terbaik. Saya yakin di negeri ini terdapat banyak orang-orang salih yang sangat pantas untuk dipilih, baik sebagai anggota legislatif ataupun sebagai eksekutif. Sukses selalu buat semua. Amin.... |
 | Dalam teori Otto von Bismark, orang akan bersatu kalo mempunyai musuh bersama yang sama. Nah karena pemimpin kita, termasuk yang Islam, menganggap tidak ada musuh bersama yang perlu ditakuti, akhirnya mereka tidak mau bersatu.
|
 | Saya setuju kang, dengan pendapat untuk tidak menyampaikan hal2 yang tidak pantas pada waktu khutbah jumat, seperti masalah golput ini. Tapi terus terang untuk saat ini melihat betapa para caleg kita... serta para perilaku anggota DPR kita baik tingkat daerah atau pusat yang (kita tahu sendiri... :()saya memutuskan untuk Golput juga...! |
 | Golpot adalah golongan yg tidak memiliki tanggung jawab terhadap bangsa ini. Seburuk apa pun sebuah pilihan, kita tetap harus menentukan pilihan. |
 | Ana izin copy lagi:-) Agar mereka yg berkelana di internet yg masih bingun tentang pemilu 2009 semakin terbuka wawasannya. |
 | jazakallah khair ustadz atas sharenya :) |
 | katakan tidak untuk golput, tks atas bagi pengetahuannya |
 | bingung milih siapa.......kalau kita tidak mengenal calegnya gimana ya...? |
 | s3nn4 wrote on Mar 10, '09 yg mengherankan kenapa yg terus diekspos hanya halal/haram Golput, tetapi tidak pernah dijelaskan kepada ummat tentang Halal/Haramnya Demokrasi... |
 | Pak Ja'far apa ga jadi Caleg ya Mba? Ka.DPW PKS Jawa Timur itu. Atau yg lainnya di Surabaya. |
 | Inilah susahnya. Sesungguhnya common enemy kita ada, tapi abstrak, misalnya : kebodohan, kemiskinan. Dalam istilah inggrisnya, dia adalah "it" bukan "who", jadi susah ngelawannya. Kalo musuhnya adalah orang (who), maka orang-orang yang berseberangan pasti akan bersatu melawannya. |
 | Inilah susahnya. Sesungguhnya common enemy kita ada, tapi abstrak, misalnya : kebodohan, kemiskinan. Dalam istilah inggrisnya, dia adalah "it" bukan "who", jadi susah ngelawannya. Kalo musuhnya adalah orang (who), maka orang-orang yang berseberangan pasti akan bersatu melawannya. |
 | Masalahnya kadang/sering caleg partai Islam kok terbawa arus tindakan tidak islami?, seperti latah tbawa arus pasang2 foto sembarangan di jalan, ikutan merusak keindahan,bahkan kadang brpotensi mbahayakan pmakai jalan.
apakah jabatan/kerajaan didpt dg cara ikut2an?, tempel2 foto di jalan. Silakan saja brjuang di ladang demokrasi, tapi jgn spelekan soal2 kecil tp tdk islami.
kupikir, meraih simpati ummat, nggak akan ngefek klu cuma tempel2 foto, bagi2 kaus, kalender tapi bukti amal shalih ibadah sehari2.
Klu cuma pasang foto2 di jalan, merusak keindahan, keamanan pemakai jalan,
apakah Allah ridha tindakan tsb? |
 | yg juga mengherankan, kenapa selalu demokrasi dianggap produk barat yg dipaksakan untuk haram? demokrasi kan banyak macemnya. ambil yg baiknya, tinggalkan yg gak baik, dan hilangkan anggapan bahwa demokrasi yg kita lakukan adalah pure barat. demokrasi kayak mobil, bisa dimodifikasi. mobil kalo dipake ngebut, ngganggu orang dan nabrak ini itu serta menghilangkan nyawa manusia; juga haram. bukan mobilnya yg haram, tapi penggunaannya.  saya kira demokrasi dengan mobil beda. demokrasi berkaitan dengan manusia, masyarakat, sedang mobil berkaitan dengan benda mati. dulu Sukarno pernah mencoba memodifikasi demokrasi dengan demokrasi Pancasila, keok. Suharto memodifikasi demokrasi dengan orde barunya, akhirnya keok juga. sekarang demokrasi semi liberal, rakyat keok juga. |
 | Eh salah, Sukarno dengan Demokrasi Terpimpin, Suharto dengan Demokrasi Pancasila. Terbolak-balik ya. Belum nyontreng aja udah bingung ...... |
 | Saya mah mau milih milih dulu, kalo ada yang saya kenal ya...saya pilih,kalo ga ada yang dikenal,saya juga kan ntar akan di mintai pertanggung jawaban,ko seperti beli kucing dalam karung aja, masalah nya lagi yang saya kenal calegnya bukan di dapil saya,bingung lagi dech...
|
 | Sebenarnya urusan ini simple aja, ojo neka neko atau kalau gak gini jadi gini , kalau nggak gono jadi gono... Ini dalil apa sih mas....????
Karena urusannya dari topik ini adalah menyangkut ; wajib, halal, haram , maka coba jawab ; 1. Sumber hukum islam itu apa ? 2. Kenapa Pemilu jadi wajib ? rincikan hukumnya. 3. Tahukan anda apa itu demokrasi ? Terangkan secara detil dan bagaimana Islam didalam sistim kenegaraan. 4. Bagaimana fiqh aqad wakalah ? 5. Apakah kalau kita ikut pemilu, lalu memilih PDI sudah cukup bagi anda hukum yang anda perselisihkan itu ? 6. Hukum pemilu menurut Islam itu statusnya apa ?
Yah, tolong dijawab yang enam ini. Setelah itu baru insyaAllah saya komentari...
Wassalam |
 | Penulis diatas pikir bagi orang yang golput itu disangkanya diam saja kali... sehingga artikel nya seperti itu...
Tidak mas... Kita terus berjuang menyadarkan umat ini siang dan malam tidak akan henti2nya. Bukan seperti kebanyakan pendukung parpol yang kalau sudah nyontreng terus pulang dan selesai, tinggal tunggu hasil :) Itukan fakta dari dulu hingga sekarang.... |
 | Masalahnya kadang/sering caleg partai Islam kok terbawa arus tindakan tidak islami?, seperti latah tbawa arus pasang2 foto sembarangan di jalan, ikutan merusak keindahan,bahkan kadang brpotensi mbahayakan pmakai jalan.
apakah jabatan/kerajaan didpt dg cara ikut2an?, tempel2 foto di jalan. Silakan saja brjuang di ladang demokrasi, tapi jgn spelekan soal2 kecil tp tdk islami.
kupikir, meraih simpati ummat, nggak akan ngefek klu cuma tempel2 foto, bagi2 kaus, kalender tapi bukti amal shalih ibadah sehari2.
Klu cuma pasang foto2 di jalan, merusak keindahan, keamanan pemakai jalan,
apakah Allah ridha tindakan tsb?  yg salah tetep aja salah pak. siapa pun orangnya.tapi jangan kita pukul rata, semuanya salah tanpa kecuali.
sistem kerajaan dan sistem apa pun ada plus minusnya. yg penting, bagaimana kita meminimalisasi sisi negatifnya dan memaksimalkan segi positifnya.
mudah2an amal ibadah kita bisa lebih baik dari mereka. dan mudah2an kita tidak termasuk mereka yg meremehkan amal ibadah orang lain, padahal kita tidak ada apa2nya dibanding orang yg kita remehkan.
Allah tidak meridhai tindakan apa pun yg merugikan dan membahayakan orang lain. apa semua caleg memang merugikan dan membahayakan orang lain sehingga tidak diridhai Allah? |
 | lebih bagus jika pake rangkaian kalimat yg bernuansa doa. misal: Dan Inilah GOLPUT ( Golongan Orang-Orang Yang "MUDAH-MUDAHAN" Mempunyai Hati PUTIH ) lah yang Insya Allah saya pilih...
( فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى . ( النجم : 32 |
 | Penulis diatas pikir bagi orang yang golput itu disangkanya diam saja kali... sehingga artikel nya seperti itu...
Tidak mas... Kita terus berjuang menyadarkan umat ini siang dan malam tidak akan henti2nya. Bukan seperti kebanyakan pendukung parpol yang kalau sudah nyontreng terus pulang dan selesai, tinggal tunggu hasil :) Itukan fakta dari dulu hingga sekarang....  'afwan Data dari mana antum ini Ustadz,.Abu..? bisa Menjudge seperti itu.. 'afwan tolong jangan memakai tuduhan yg tak berdasar.. 'afwan katanya antum kenal dengan beberapa ikhwah PKS Di sidney..apa mereka seperti yg antum sebutkan..?..itu mungkin yg bisa antum jumpai di sana,,hee^_^
Subhanallah Maha Suci Engkau Ya Allah,,teruslah berjuang menyadarkan Umat siang dan malam,,saya BANGGA dengan Hal itu.. semoga Allah membalas semua aktifitas ibadah antum,,Amin..^_^ |
 | Demokrasi adalah sistem kufur gak boleh memakainya, menerapkannya, mengikutinya!!! itu adalah milahnya orang kafir, ngutip kata ust. Abu, sekali ngikutin ampe lubang biawak dimasukin! itulah kondisi kita, gara2 ngikutin millahny orang kafir (demokrasi) ya seperti sekarang orang kafir malah ngetawain kita yang bodoh ngikutin mereka. dengan golput pertanda kita melawan sistem jahiliah yang diterapkan sekarang, bukannya asal golput, malahan yang ikut memilih juga secara tidak langsung ikut melanggengkan sistem jahiliah yang ada, sistem yang menentang hukum2 Allah. Hancurkan sistem tersebut dengan menegakkan Syariat Islam!!!!! http://www.mediaumat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=304&Itemid=2Pemilih Ideologis yang Cerdas Wednesday, 11 February 2009 Baik buruknya masyarakat atau negara ditentukan oleh dua pilar, pemimpin dan sistem yang dijalankan. Pemimpinnya baik tapi sistemnya buruk tidak akan mengubah keadaan secara mendasar. Sebaliknya, sistemnya baik tapi pemimpin buruk, juga akan membawa kegagalan. Jadi kita membutuhkan dua-duanya, pemimpin yang baik, amanah, dalam sistem yang baik. Imam al Ghazali menekankan pentingnya dua perkara ini dalam kitabnya al Iqtishad fil I’tiqad. Menurut Imam al Ghazali , agama (ad diin) adalah asas dan pemimpin (as sulthan) adalah penjaga (haaris) . Masyarakat yang tidak didasarkan pada agama akan runtuh , demikian juga kalau tidak ada penjaga (sulthan) masyarakat akan lenyap. Jadi yang dibutuhkan adalah pemimpin dan asas sistem yang berdasarkan agama. Kewajiban memilih pemimpin yang baik tidak bisa dilepaskan dari kewajiban menerapkan sistem yang baik. Kalau pemimpin yang baik tentu saja harus berdasarkan syariah Islam, demikian juga sistem yang baik haruslah juga berdasarkan syariah Islam. Memilih pemimpin yang justru melanggengkan sistem kufur yang bertentangan dengan syariah Islam justru haram. Atas dasar itulah sebagian masyarakat yang ideologis tidak memilih. Bisa jadi karena mereka melihat tidak ada pemimpin yang layak. Atau mereka melihat, pemimpin yang terpilih akan menjalankan sistem yang bertentangan dengan syariah Islam. Apakah berarti mereka tidak bertanggung jawab? Justru sikap seperti ini cerminan dari pemilih yang bertanggung jawab. Mereka melihat memilih pemimpin sebaik apapun dia, namun menjalankan sistem yang bertentangan dengan syariah Islam, tidak akan membawa kebaikan bagi masyarakat. Justru akan melanggengkan sistem kufur yang merugikan masyarakat. Tidak memilih dalam kondisi seperti itu merupakan bentuk perlawanan ideologis terhadap sistem kufur yang rusak. Kita justru harus bersyukur kalau masyarakat semuanya menolak memilih pemimpin yang menjalankan sistem kufur. Sebab, hal itu akan mempercepat tumbangnya sistem kufur. Dengan catatan, masyarakat bersegera menegakkan sistem baru yang berdasarkan syariah Islam dan memilih pemimpin baru yang menjalankan sistem itu. Yang perlu kita kecam justru yang tidak memilih tapi apatis dan tidak melakukan apa-apa. Pemilih cerdas dan ideologis, tentu tidak hanya berhenti pada sikap selektif untuk memilih. Tapi dengan sungguh-sungguh mempersiapkan dan memperjuangkan sistem baik yang berdasarkan syariah itu bisa terwujud. Upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan kembali sistem Islam justru mencerminkan sikap yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara. Pemilih yang cerdas dalam pandangan Islam haruslah mendasarkan aktifitas politiknya berdasarkan syariah Islam. Bukan semata-mata kepentingan pragmatis atau kemashlahatan yang berdasarkan hawa nafsu. Syariah Islam harus menjadi standar aktivitas politiknya, termasuk ketika melakukan perubahan untuk menegakkan sistem Islam. Rasulullah SAW telah mencontohkan untuk membangun sistem Islam haruslah melakukan aktivitas politik yang bermuara pada tiga hal: terciptanya kader dakwah, terwujudnya kesadaran masyarakat yang menyadari dan bergerak menuntut perubahan, dan terdapat elit politik strategis (ahlul quwwah) yang mendukung sistem Islam. Ketiga inilah yang menjadi kunci dasar dari perubahan masyarakat. Dalam rangka itu Rasulullah melakukan aktifitas politik yang menonjol antara lain Membina umat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam sehingga terjadi perubahan pemikiran di tubuh umat. Beliau juga menyerang ide-ide, pemikiran, dan hukum-hukum yang rusak di tengah masyarakat, membongkar kepalsuaannya dan pertentangannya dengan Islam . Dengah demikian umat akan menolak hukum-hukum tersebut dan mengantikannya dengan sistem Islam Rasulullah SAW juga membongkar kedzaliman dan kebejatan penguasa-penguasa yang ada di tengah-tengah umat. Rasululah menyerang Abu Jahal dan Abu Lahab dengan mengungkap kedzaliman dan penghianatannya terhadap umat. Di samping itu Rasulullah mendatangi elite-elite politik dari berbagai kabilah yang berpengaruh , mengajak mereka masuk Islam dan agar mereka menyerahkan kekuasaan kepada Islam . Sikap Rasulullah SAW yang menonjol adalah istiqomah (konsisten) memegang mabda’ Islam (prinsip ideologi Islam). Rasulullah SAW tidak mengikuti arus meskipun dibujuk dengan harta, kekuasaan, dan wanita. Rasulullah SAW menolak semua itu karena mensyaratkan pengakuan terhadap sistem kufur yang bertentangan dengan prinsip Islam. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa aqidah dan hukum Islam tidak berubah mengikuti kondisi (zaman dan tempat) yang ada. Tapi justru Islamlah yang merubah kondisi yang ada. Dengan cara itulah hukum-hukum Islam bisa ditegakkan lewat kekuasaan. Walhasil, pemilih yang cerdas juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. Sebab hanya dengan mengikuti cara Rasullullah SAW kemenangan akan diraih dan diberkahi Allah SWT.[] farid/www.mediaumat.com |
 | Mbak... Mbak ini mewakili suatu partai tapi koq Golput ya? Saya jadi bingung...  Myspace Layouts |
 | Mbak... Mbak ini mewakili suatu partai tapi koq Golput ya? Saya jadi bingung...
 Myspace Layouts  |
 | dah mbaca artikelnya mas zubair yang wong jepang ini belum...disana ada Golput definisi baru...  Hiyaaaaaaaaaaaaa..... Belum... Mas? Wdoooohh... Koq gambarnya ada lambang PKS dan wanita ya? Emangnya ada Golput Definisi baru ya?  Myspace Layouts |
 | Waduh... Maaf Mas... Mata saya emang minus nih... saya fikir itu gambar wanita... Maaf... |
 | penggunaan kaidahmu terlalu dipaksakan kawan...Tau nggak, dalil yg digunain ibn taymiyah istidlal nya seperti apa. Mafhum bagi ulama bagi dia, tp tetep mukhalafatunnash. Itu dhururiy banget gitu loh.. nah sekarang manathnya beda |
Comment deleted at the request of the author.
 | ada demokrasi atawa gak ada tetap aja dakwah jalan terus, biar di pemerintah super otoriter sekalipun tetap berdakwah, syukur kita hanya kepada Allah bukan kepada demokrasi!!! jadilah pemilih cerdas |
 | Masih ingat kan sama revolusi damai? di Sitenya wendy ngaku Ustadz Abduh... Bulsheet comment. I think he was zionist agent.. |
Comment deleted at the request of the author.
 | Dalam rangka itu Rasulullah melakukan aktifitas politik yang menonjol antara lain Membina umat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam sehingga terjadi perubahan pemikiran di tubuh umat. Beliau juga menyerang ide-ide, pemikiran, dan hukum-hukum yang rusak di tengah masyarakat, membongkar kepalsuaannya dan pertentangannya dengan Islam . Dengah demikian umat akan menolak hukum-hukum tersebut dan mengantikannya dengan sistem Islam  mmm... bahasanya terlalu "ilmiah"... membina umat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam itu bukan aktifitas politik. ini adalah menyampaikan risalah dakwah dan menegakkan syariat. kalo membuat undang2 (piagam madinah), perjanjian damai, mengirim delegasi, menerima utusan suatu kabilah atau negara, dsb., ini baru aktifitas politik.
nabi juga tidak menyerang ide2... dst. tapi beliau menjalankan wahyu Allah dan hukum2Nya secara bertahap. pelan2. tidak frontal, tidak radikal, dan tidak mendadak. |
 | Dengan cara itulah hukum-hukum Islam bisa ditegakkan lewat kekuasaan. Walhasil, pemilih yang cerdas juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. Sebab hanya dengan mengikuti cara Rasullullah SAW kemenangan akan diraih dan diberkahi Allah SWT.[] farid/www.mediaumat.com  islam bisa ditegakkan lewat kekuasaan jika islam yg berkuasa. mustahil islam bisa ditegakkan jika pemenang pemilu adalah orang2 kafir, karena umat islamnya disuruh golput semua.
"Sebab hanya dengan mengikuti cara Rasullullah SAW kemenangan akan diraih" rasul menjadi pemimpin tertinggi umat islam, sebagai nabi dan rasul-Nya, adalah karena ditunjuk dan dipilih oleh Allah swt. tapi yg memilih abu bakar, umar, utsman, ali, muawiyah, yazid bin muawiyah, abdul malik bin marwan, abdullah bin zubair, dst.; adalah manusia. jadi, kita sebagai manusia hendaknya memilih pemimpin kita. jangan golput. karena golput tidak pernah dicontohkan oleh nabi dan para sahabat. |
 | penggunaan kaidahmu terlalu dipaksakan kawan...Tau nggak, dalil yg digunain ibn taymiyah istidlal nya seperti apa. Mafhum bagi ulama bagi dia, tp tetep mukhalafatunnash. Itu dhururiy banget gitu loh.. nah sekarang manathnya beda  anda pernah mengaku seolah2 saya di sini: http://wendydiana83.multiply.com/journal/item/95 maaf saya tidak melayani orang yg seolah2 memperjuangkan islam tapi berbohong dan mengaku seakan2 sebagai orang lain yg bukan dirinya. lagi pula identitas anda nggak jelas banget... |
 | golput itu adalah cara antek penjajah utk membuat negara ini kehilangan legalitasnya, dengan demikian mereka bebas untuk menentang dan membuat kekacauan di negara ini, bila kita yakin dakwah akan terus berjalan dalam tekanan seberat apapun lalu kenapa anda ragu bila dakwah mampu berkembang dalam keadaan demokrasi toh HTI sekarang bisa bicara khilafah yang di blow up disana sini juga karena demokrasi. |
 | fiqr wrote on Mar 11, '09 golput=putih putih=kain kafan kain kafan=MATI Orang udah mati mana bisa disuruh milih! Btw,Pengen milih tapi belum punya kartu pemilih. Apa bisa pk ktp aje? ribut2 golput yg mau pd milih lupa g punya kartu pemilu. |
 | Personal Messagenya alot ya Ustadz? masih PM PM terus ustadz sama Si Maghfural.. sabarnya antum ... do'akan ustadz agar ana juga bisa punya ilmu seperti antum, sehingga yang berjuang meluruskan umat ini bisa ada temannya ...
|
 | ya.... ga lucu dong kalo harus kenalan nya nanti, trus apa ada jaminan yang berbasis islam orangnya amanah? sebenernya saya sudah terlanjur kecewa dengan "mereka mereka" yang berasal dari partai islam, tau tau akhlaknya jauh dari islam itu sendiri, itu yang membuat saya harus mikik mikir memilih, pasalnya tidak mau kecewa kesekian kalinya, ini harus di istikharahin dulu, biar pertanggung jawabannya jelas |
 | ya...itu, ga pada saya kenal, cuma lihat gambar dan visi dan misinya di baliho, kalo baca tulisan kamu sich emang serem habis, tapi kan banyak juga sejarah yang pemimpinnya muslim, dan mereka dzolim juga ( ini bukan berarti saya mau di pimpin oleh non muslim juga) saya cuma harus bener bener selektip dalam memilih, ga asal milih walaupun cuma 1, tetep harus hati hati, sekalian ini juga pembelajaran buat para caleg, bahwa mereka itu di pilih buat memperjuangkan kepentingan rakyat, ini ko malah jadi ajang cari kerja, jadi kalo udah kepilih, jadi lupa sama kita yang milih. |
 | ya...itu, ga pada saya kenal, cuma lihat gambar dan visi dan misinya di baliho, kalo baca tulisan kamu sich emang serem habis, tapi kan banyak juga sejarah yang pemimpinnya muslim, dan mereka dzolim juga ( ini bukan berarti saya mau di pimpin oleh non muslim juga) saya cuma harus bener bener selektip dalam memilih, ga asal milih walaupun cuma 1, tetep harus hati hati, sekalian ini juga pembelajaran buat para caleg, bahwa mereka itu di pilih buat memperjuangkan kepentingan rakyat, ini ko malah jadi ajang cari kerja, jadi kalo udah kepilih, jadi lupa sama kita yang milih.  yg 'serem' kan tulisannya mbak. bukan orangnya :-) bener mbak. kita harus bener2 selektif dalam memilih. pilih yg udah punya kerjaan tetap, rajin ke masjid, dikenal soleh, gak pernah nipu, dll. jangan pilih yg masih 'nganggur'. |
 | ya...itu, ga pada saya kenal, cuma lihat gambar dan visi dan misinya di baliho, kalo baca tulisan kamu sich emang serem habis, tapi kan banyak juga sejarah yang pemimpinnya muslim, dan mereka dzolim juga ( ini bukan berarti saya mau di pimpin oleh non muslim juga) saya cuma harus bener bener selektip dalam memilih, ga asal milih walaupun cuma 1, tetep harus hati hati, sekalian ini juga pembelajaran buat para caleg, bahwa mereka itu di pilih buat memperjuangkan kepentingan rakyat, ini ko malah jadi ajang cari kerja, jadi kalo udah kepilih, jadi lupa sama kita yang milih.  Tandai target...dan buat prioritas dulu... Pertama Pilih beberapa partai...lihat Track Recordnya...cari yang paling dekat dengan Islam... Kemudian di rangking caleg prioritas yang ada di wilayah kita dari partai tersebut... Silaturrahim aja ke rumahnya...ajak dialog...atau kenali tetangganya...masjid di dekat rumahnya... Sekali-sekali...sidak ke masjid tersebut pas Shubuh...adakah dia berjama'ah di masjid... Gampang tha? daerah mana? kalau sudah nentuin Partainya, nanti saya bantu tampilkan datanya [semampu saya, Insya Allah]
|
 | buat saya mau partai manapun ga masalah, asal muslim amanah sholeh dll lah! saya di Kab. Bandung, (cariin ya?) kalo ga ada ya... ga akan milih, bukan karena setuju dengan negara islam (Glek!!!?, saudi, mesir atau negara yang ngaku islam juga, pelaksanaannya, ah! tanda tanya gede banget) tapi karena ga da yang layak di pilih aja, apalagi kalo harus seperti yang di anjurkan oleh "kang noorahmat", wuisch!!! jadi bahan kerjaan baru, ga ah! |
 | Duh, bilang bahwa ini bukan Berita Acara Pemeriksaan, jadi ndak usah serius amat. Orang mau komentar monggo, tidak mau ya monggo. |
 | Afwan teh...saya bukan orang sunda...jangan dibales pakai bahasa sunda ya...:) |
 | saya dapat risalah ini dari suatu web... berhubungan sekali dengan bahasan blog..
ada tanggapan tentang risalah dibawah ini?
-------------------------------------------
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Bagaimana hukum ikut serta dalam majelis umat (parlemen) dan majelis sejenis yang ada di negeri- negeri Islam yang kadang-kadang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Allah?
Jawaban. Yang saya yakini, bahwa setiap negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara jelas dan juga tidak mengamalkan hukum-hukum Allah tersebut, maka tidak boleh bagi seorang muslim ikut serta menjadi anggota pada majelis negara tersebut ataupun parlemennya.
Oleh karena itu saya berpendapat bahwa tidak ada manfaatnya bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam hukum yang tidak diturunkan oleh Allah, terutama untuk masa depan mereka yang panjang.
Karena dampak keikutsertaan ini tidak memberikan manfaat secara konkrit, karena biasanya kelompok kecil yang ingin menegakkan syariat ini suaranya hilang tertelan suara-suara kelompok lain yang pada akhirnya mereka tidak memperoleh apa- apa kecuali fitnah bagi diri mereka sendiri.
Mereka ini sering mengatakan bahwa boleh melanggar syariat dalam rangka mencapai maslahat yang besar walaupun dengan melakukan mafsadah (kerusakan) yang kecil, namun kenyataannya tidak ada sedikitpun maslahat yang mereka peroleh; tidak besar dan tidak pula kecil.
Praktek ini telah dilakukan oleh sebagian jamaah jamaah Islam di Suria. Mereka ikut serta dalam parlemen Suria, padahal di dalamnya terdapat apa yang dinamakan dengan hukum negara. Akhirnya kaum muslimin tidak mendapatkan manfaat apapun dari keikutsertaan ini kecuali hanya mencari-cari pembenaran terhadap perbuatan yang mereka lakukan dan penyelewengan-penyelewengan yang mereka kerjakan dengan dalih bahwa kemaslahatan umatlah yang menuntut hal itu, serta dengan anggapan bahwa penegakkan hukum-hukum syariat terlalu dini untuk dilaksanakan. Padahal menurut syariat, tidak boleh memberikan loyalitas kepada orang yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah. Dengan keikutsertaan ini, akhirnya mereka mendapat kerugian yang nyata dan tak ada keuntungan sedikitpun yang berarti.
Jika kita menginginkan tegaknya hukum Islam dan berdirinya daulah (negara) Islam, maka wajib bagi kita membentuk masyarakat Islam. Dari masyarakat Islam inilah akan tegak hukum Islam. Dan tegaknya hukum Islam menurut logika pasti berawal dari masyarakat Islam.
Saya sangat yakin bahwa perjuangan keras yang dilakukan selama setengah abad lebih oleh jamaah-jamaah Islam tidak mungkin akan berakhir dengan sia-sia. Tapi kenyataannya perjuangan mereka yang sangat panjang berakhir dengan kegagalan seperti debu yang beterbangan. Kenapa ini terjadi? Karena mereka berjuang menegakkan daulah Islam tapi dengan cara yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Kalian mengetahui berapa lama Rasulullah tinggal di Makkah, berdakwah, menanamkan benih-benih tauhid dalam hati mereka yang sekian lama berkubang dalam kesyirikan dan kekafiran kepada Allah subhana wa ta'ala.
Kemudian tatkala Allah mengizinkan beliau untuk hijrah ke Madinah, disana mulailah beliau menancapkan tonggak-tonggak untuk berdirinya daulah Islam.
Menjadi tugas kita hari ini untuk merealisasikan dua hal yang saya namai dengan tashfiyyah (pemurnian) dan tarbiyah (pembinaan). Kami mengajak para dai-dai Islam untuk mengatasi perselisihan yang terjadi antara mereka di dalam manhaj (cara beragama) dan prakteknya dengan cara berlandaskan dua hal tersebut.
Maksud dari tashfiyyah adalah: Kita murnikan Islam dari segala sesuatu yang masuk ke dalam Islam, yang jumlahnya terlalu banyak untuk disebut. Dan ini membutuhkan kerja teramat keras dari para ahli ilmu (untuk memurnikannya kembali).
Kita bersihkan Islam ini dari aqidah-aqidah yang bertentangan dengan Islam. Kita bersihkan kitab-kitab sunnah dari hadits-hadits yang dhaif dan palsu. Kita bersihkan kitab-kitab tafsir dari Israiliyat yang merusak. Kita bersihkan fiqih dari hukum-hukum (yang keliru) yang senantiasa masih diikuti oleh banyak ulama. Kita bersihkan kitab-kitab akhlaq, perilaku dari penyimpangan-penyimpangan dan seterusnya.
Termasuk hal yang memprihatinkan adalah banyak ulama yang lupa atau mungkin berpura-pura lupa bahwa keadaan Islam hari ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Islam di masa awal (zaman shahabat). Mereka menduga bahwa jika kita berusaha menegakkan hukum Islam maka undang-undang dan peraturan telah tersedia dengan apa yang telah kita miliki saat ini berupa kitab-kitab. Padahal sering kami sebutkan bahwa kitab-kitab ini di dalamnya terdapat banyak penyimpangan-penyimpangan terhadap syari'ah.
Sebagai contoh saya sebutkan, bahwa seorang dai Islam yang telah berpulang ke rahmatullah telah menulis sebuah kitab tentang undang-undang Islam. la menyebutkan di dalamnya permasalahan-permasalahan yang diambil dari madzhab Hanafy. Padahal ia belum mempelajari fiqih secara sunnah, atau sekurang-kurangnya ia belum menyertakan sunnah yang shahih dalam dirasah-nya terhadap madzhab Hanafi.
la menyebutkan dalam undang-undang ini bahwa jika telah tegak hukum Islam pada hari ini maka boleh bagi seorang hakim muslim membunuh seorang muslim yang membunuh orang kafir. Padahal ini jelas bertentangan dengan hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari:
"Artinya : Tidaklah seorang muslim dibunuh, disebabkan (ia telah membunuh) seorang kafir."
Ini adalah sebuah contoh singkat yang menerangkan kepada kita bahwa seandainya kita telah menegakkan hukum Islam dan kita mengumumkan hal itu, maka kita tetap tidak akan sanggup menerapkan hukum secara utuh dan benar. Kenapa? Karena orang yang tidak mempunyai sesuatu, tidak akan bisa memberikan sesuatu.[1]
Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa mereka bukan hanya mengambil sumber dari 4 madzhab dengan alasan persatuan saja tapi mereka juga mengambil sumber dari madzhab syi 'ah.
Mungkin kalian mendengar apa yang terjadi di Mesir sejak beberapa tahun yang lalu; apa yang mereka sebut dengan pendekatan antar madzhab, dan yang mereka maksudkan adalah pendekatan antara madzhab ahlus-sunnah dan madzhab syi'ah.
Akibatnya sebagian mereka (ahlus-sunnah) menjadi kesyi'ah-syi'ahan, dan terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran syi'ah. Dan anehnya tidak ada seorang syi 'ah-pun yang terpengaruh secara mutlak dengan ahlus-sunnah.
Lebih parah lagi, mereka juga mengambil pendapat-pendapat madzhab zaidiyyah, serta me-ruju' kepada kitab-kitab mereka. Sebagian ulama di universitas Damaskus dalam beberapa program-programnya berpedoman dengan kitab Musnad Zaid. Padahal Musnad Zaid menurut ulama ahlus sunnah diriwayatkan oleh seorang pendusta dan pemalsu (hadits).
Semua hal ini terjadi karena disebabkan tidak adanya pelaksanaan pokok pertama, yaitu tashfiyyah (pemurnian), yang selanjutnya diteruskan dengan pokok kedua yaitu tarbiyah.
Dan saat ini saya melihat masalah besar yang melanda sebagian salafiyyun yang telah Allah berikan nikmat berupa petunjuk kejalanNya yang lurus, yaitu mengikuti Al Kitab dan Sunnah, akan tetapi sava melihat satu kekurangan pada diri ikhwan-ikhwan kita, salafivvin, di berbagai negeri Islam, yaitu ketika mereka lebih lebih mementingkan masalah tashfiyyah (pemurnian) daripada tarbivah (pembinaan), sehingga kita lihat penyimpanaan-penyimpangan dalam akhlaq dan mu'amalah (pergaulan mereka)[2]. Maka kitapun akhirnya hidup dengan pembinaan yang sama seperti yang dialami oleh bapak-bapak dan kakek-kakek kita.
Pada prinsipnya kita akan membiarkan perbuatan para penguasa setelah kita menasehati mereka dengan cara yang sesuai dengan kenyataan dan zaman. Dan yang lebih penting kita membina diri kita dan anak-anak kita, yang berarti kita menaburkan benih-benih yang akan tumbuh menjadi cikal bakal tegaknya hukum Islam dan berdirinya daulah Islamiyah.
Adapun mereka yang ridha masuk parlemen yang tidak berdasarkan hukum Allah dan menganggap masuk parlemen itu karena tujuannya untuk mencegah dan mengurangi kejelekan, maka orang-orang seperti ini tidak boleh langsung dikafirkan bahkan ia mungkin mendapat pahala. Akan tetapi kita katakan kepada mereka bahwa masuknya mereka ke dalam parlemen tersebut tidak akan meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang telah ada.
Dan kebanyakan bangsa-bangsa Islam saat ini serta penguasa yang muslim, tidak memahami makna laa ilaaha illallah yang merupakan masalah yang sangat besar. Sayang sekali apabila masalah yang sangat besar ini kita abaikan, sementara kita sibuk membenarkan/meluruskan masalah-masalah hukum saja dan membiarkan kaum muslimin berada dalam kesesatan yang nyata. Karena itu kita harus mengajak kaum muslimin agar mereka memahami syariat mereka, khususnya azas syariat ini yaitu tauhid.
[Disalin dari buku Majmu` Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Al-Bani, hal 111-116, Penerjemah Adni Kurniawan, Pustaka At-Tauhid]
|
 | elhas wrote on Mar 15, '09, edited on Mar 15, '09 pak ustadz Abduh, emangnya menurut antum ada ya partai yang masih bersih beneran? coz saya menemukan bahwa setiap partai yang ikut pemilu (kecuali yang baru) tidak ada satupun yang bersih alias tidak terlibat korupsi. itu baru sudut pandang korupsi saja lho, belum sudut pandang yang lain2 ;)
lalu, jangan terjebak dengan generalisasi mengenai orang yang tidak ikut pemilu. menganggap semua yang tidak memilih dalam pemilu berarti lepas tanggung jawab dan tidak punya pilihan , dan tidak berjuang apa-apa untuk perbaikan. that's a serious logical fallacy ;)
pemilu 2009 ini insya Allah saya milih, tapi tidak menutup kemungkinan untuk ga jadi milih or, menjadi golput di masa datang. dan saya tetap menyisakan respek untuk beberapa kaum yang memilih untuk golput ;) -ga semua tapinya :P- |
 | elhas wrote on Mar 15, '09 oh iya, satu lagi...
Anda katakan:
Saya katakan aneh, sebab manakala pemilu ini tidak diikuti oleh seorang muslim pun (karena demikian seruan mereka, mengajak golput) dan hanya diikuti orang-orang kafir,[1] lalu menghasilkan pemimpin yang kafir, para menteri yang kafir, dan aparat negara yang juga kafir; mereka tetap menyatakan sami’naa wa atha’naa. Kalau pemilu saja dibid’ahkan, bagaimana halnya dengan ‘kebijakan-kebijakan’ pemerintah nanti yang notabene non-muslim? Bukankah yang bid’ah dan mungkar kelak bukan hanya pemilu saja? Apakah akan tetap sami’naa wa atha’naa dengan penguasa yang serba kafir?
Tanggapan saya : menurut saya, (salah satu kemungkinan) konsekuensi logis dari seluruh muslim Indonesia (yang mayoritas, kan?) tidak ikut pemilu adalah lemahnya legitimasi hasil pemilu itu sendiri. sekalipun non-muslim berhasil diangkat jadi pemimpin negeri tapi negeri ini akan segera berganti pemerintahan karena proses demokrasi yang tidak memperoleh dukungan dari rakyat. bahkan sangat mungkin -kalau rakyatnya emang sudah sadar apa itu demokrasi ;) - sistem demokasi di Indonesia ini runtuh dan segera tergantikan dengan sistem baru, Insya Allah.
do you overlook this possibilty? ;)
|
 | elhas wrote on Mar 16, '09, edited on Mar 16, '09 Bila kemudian muncul People Power, Media Massa [yang memiliki standar ganda dalam pemberitaan dan cenderung tendensius terhadap komunitas muslim] akan memunculkan opini terrorisme komunal. Efeknya cenderung destruktif, melihat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap Islam masih jauh dibawah standar yang diharapkan.  pemahaman lemah yang anda kemukakan terjadi sekarang dan belum tentu terjadi nanti. dengan demikian, anda telah menganalisis kemungkinan yang akan terjadi nanti, tapi dengan mengasumsikan variabel masa kini yang statis, how could?. nah, ketika masyarakat Muslim memilih untuk menolak pemilu dan sistem demokrasi, apakah bisa dipastikan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap Islam masih jauh dibawah standar yang diharapkan?
kalau (ketika itu) Media Massa (kafirun atau munafiqun) mencoba menggiring opini seperti yang anda sebutkan, berapa banyak dari kaum "election boycotters" -yang saat itu menjadi mayoritas- yang akan tergiring opininya? belum tentu banyak, bahkan belum tentu jumlahnya signifikan.
IMO, dalam alam demokrasi, people power bisa saja melangkahi instrumen hukum yang didesain oleh representative councils, makanya demokrasi itu bisa saja dijatuhkan tanpa harus melalui mekanisme yang ditempuh dalam representative councils.
|
 | elhas wrote on Mar 16, '09 Insya Allah, karenanya pembinaan masyarakat untuk mendekatkan kepada kaidah islam harus terus berjalan beriringan dengan revolusi regulasi yang saat ini secara de facto dan de jure hanya bisa dilakukan oleh mereka-mereka yang bertempur di dalam gedung Parlemen.  yang kita butuhkan bukan cuma revolusi regulasi, tapi revolusi sistem. -demokrasi- red. Revolusi regulasi DOES matter, tapi dalam realitanya malahan memiliki beberapa side effects. di antaranya, munculnya pemikiran yang mendistorsi urgensi dari revolusi sistem itu sendiri. misalnya, dengan munculnya wacana menyandingkan demokrasi dan Islam yang notabene -walau punya kesamaan- tidak bisa hidup secara berdampingan. nah, munculnya wacana seperti itu biasanya dari mereka yang aktif dalam politik demokrasi ini, entah mereka sudah kadung nyaman dengan demokrasi, atau entah mereka secara sporadis pengen memerangi golput.
|
 | elhas wrote on Mar 16, '09 nah, maka dari itu, kenapa harus memerangi golput secara general? seharusnya kita melihat, alasan kenapa orang memilih untuk keluar dari pemilu, ga asal pukul rata bahwa setiap golput akan mempersulit mereka yang berdakwah di parlemen.
satu hal lagi, ketidakpercayaan terhadap pemilu dengan kondisi sekarang, menurut saya bisa dibilang wajar, karena partai-partai yang ada sekarang ( selain yang BBB -bener2 baru ) punya alasan untuk tidak dipercayai, dilihat dari track record yang sudah2. so, percaya atau tidak percaya terhadap prosesi pemilu itu pilihan. tapi percaya bahwa Islam wajib ditegakkan itu adalah kewajiban seorang Muslim. |
 | seharusnya kita melihat, alasan kenapa orang memilih untuk keluar dari pemilu, ga asal pukul rata bahwa setiap golput akan mempersulit mereka yang berdakwah di parlemen.  asas usahanya adalah menyatukan kekuatan agar lebih masif dalam bergerak [dari semua lini agar tidak terus menerus saling memotong jalan], terlepas aliran dan manhaj gerakannya.
Memberikan pilihan ataupun tidak memberikan pilihan bukanlah kewajiban, namun hak warganegara yang harus diptimalkan fungsinya.
Ketika ia menjadi sebuah pilihan, seringkali memposisikan diri berada pada domain terbatas yang tidak bisa beririsan dengan pilihan yang bertentangan dengan pilihan itu, dengan kata lain mempropagandakan pilihannya sebagai sebuah kewajiban.
Dalam Logika Matematika, disebut A Sequence B bila terdapat irisan dari keduanya. Secara praktis, irisan itu saat ini harus kita cari agar terjadi keselarasan dalam bergerak dan menghindari distorsi yang dimunculkan oleh aktivitas sporadis yang jauh dari kematangan gerak. Antara yang di dalam Parlemen dengan yang di luar Parlemen diharapkan terjadi keselarasan gerk dan langkah, sehingga efek yang ditimbulkan menjadi jauh lebih masif dan berdaya guna.
Antara Pemilih ideologis dan Golput Ideologis sebenarnya terdapat irisan yang sangat jelas terkait visi Islam yang melekat. Hanya saja ketika masing-masing pihak bertahan pada domain masing-masing secara ekstrim sehingga menihilkan keberadaan sequence itu, maka yang terjadi bukanlah kolektifitas gerakan yang masif, namun berubah menjadi gerakan dekonstruktifikasi yang tidak akan menumbuhkan efek positif terhadap peningkatan pemahaman masyarakat, apalagi yang terus menerus dipertontonkan adalah pergesekan antara gerakan Islam yang pada hakikatnya memiliki visi yang sama.
Wallahua'lam. |
 | pemahaman lemah yang anda kemukakan terjadi sekarang dan belum tentu terjadi nanti. dengan demikian, anda telah menganalisis kemungkinan yang akan terjadi nanti, tapi dengan mengasumsikan variabel masa kini yang statis, how could?. nah, ketika masyarakat Muslim memilih untuk menolak pemilu dan sistem demokrasi, apakah bisa dipastikan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap Islam masih jauh dibawah standar yang diharapkan?  Berarti anda-pun memahami proses. Yang saat ini terjadi karena proses yang dimulai sejak masa silam. Diantaranya ada kelebihan dan kekurangan para pendahulu pendiri Indonesia yang menetapkan Demokrasi di Indonesia [mereka muslim dan sebagian besar mereka-pun ulama], kemudian seiring perkembangan mengalami revolusi pemikiran. Apa yang terjadi hari ini-pun akan berakibat hingga ke masa yang akan datang.
Oleh sebab itu, perencanaan yang matang dan strategis perlu dilakukan dengan baik dengan memanfaatkan alat yang ada di hadapan, bukan membangkitkan euforia ataupun utopia yang hanya memunculkan propaganda negatif untuk dipertontonkan kepada khalayak awam. Alih-alih memahamkan sisi negatif demokrasi, justru memunculkan resistensi yang berlebihan dari lawan-lawan politik Islam.
Revolusi tidak selalu berarti Dekonstruktifikasi, Namun Revolusi juga bisa bermakna Perubahan menyeluruh melalui tahapan yang terencana dan masif.
Wallahua'lam |
Comment deleted at the request of the author.
 | elhas wrote on Mar 16, '09 Memberikan pilihan ataupun tidak memberikan pilihan bukanlah kewajiban, namun hak warganegara yang harus diptimalkan fungsinya.  katanya bukan kewajiban tapi 'harus dioptimalkan'? apakah anda bermaksud mengemukakan bahwa, "pada akhirnya memilih itu wajib?" logika cemana ini -____-
|
 | elhas wrote on Mar 16, '09, edited on Mar 16, '09 Saat ini diperlukan upaya untuk saling menghormati ketetapan hati masing-masing pihak dan menjauhi segala upaya propaganda negatif terhadap pihak yang berseberangan. Munjauhkan diri dari sikap ghurur dan takabur...agar masyarakat awam semakin mendapatkan pelajaran dari Ummat Islam yang dewasa dalam bersikap maupun bertindak.  apa perbedaan antara propaganda negatif dengan penegasan visi? ketika seseorang yang golput ditanya : kenapa kamu golput? maka dia menjawab "saya tidak mengakui demokrasi dan saya berpendapat haram untuk ikut berpartisipasi dalam demokrasi"
bagi dia itu adalah penegasan visi dan pengemukaan landasan, sedangkan bagi orang2 yang pro demokrasi.. adalah... apa? propaganda negatif?
ketika seseorang mengajak untuk golput dan (tentunya) mengemukakan alasannya apakah itu anda sebut propaganda negatif? kalau iya, maka dengan kata lain anda menyarankan mereka yang golput ga usah lah ajak2 orang, sehingga kalau anda emang konsisten (kecuali pake standar ganda) maka anda juga ga usah ajak orang2 untuk memilih :P.
jadi tentunya, tidak semua ajakan golput itu bisa dikategorikan sebagai propaganda negatif, bukan? kalau menurut saya, justru dukungan atas diharamkannya golputlah yang bisa dikategorikan propaganda negatif terhadap mereka yang golput ^^
===================================================== antara aktivis yang berjuang dengan tidak memilih dan memilih memang terdapat irisan yang banyak dan tegas, tapi ada juga hal-hal di luar irisan yang membuat beberapa perselisihan dan perbedaan pendapat ( yang konsekuensinya adalah perselisihan dan perbedaan tindakan juga ) yang tidak bisa dihindari.
untuk "damage" yang potensial timbul (atau bahkan sudah terealisasi) dari "aktivis golput" terhadap "aktivis pemilih", saya yakin anda sudah tahu, tapi anda perlu juga membuka mata bahwa aktivitas dari para "aktivis pemilih" berpotensi (atau mungkin sudah terjadi) memperkokoh demokrasi itu sendiri, yang oleh "aktivis golput" akan diruntuhkan. sama-sama potensial "mengganggu" kan?
|
 | elhas wrote on Mar 16, '09, edited on Mar 16, '09 Oleh sebab itu, perencanaan yang matang dan strategis perlu dilakukan dengan baik dengan memanfaatkan alat yang ada di hadapan, bukan membangkitkan euforia ataupun utopia yang hanya memunculkan propaganda negatif untuk dipertontonkan kepada khalayak awam. Alih-alih memahamkan sisi negatif demokrasi, justru memunculkan resistensi yang berlebihan dari lawan-lawan politik Islam.  sebelumnya, saya ingatkan bahwa Soekarno Hatta awalnya dipilih sebagai pemimpin RI bukan lewat pemilu ;)
========================================================
tidak semua hal yang tidak bisa anda lihat prosesnya berarti tidak ada prosesnya. jangan terjebak pada generalisasi bahwa orang2 yang golput adalah orang2 yang secara utopis mengharapkan demokrasi runtuh seketika, berganti dengan sistem Islam, -walau sebagian dari mereka memang nampak utopis ^^ - tapi prosesnya itu yang memang tidak semua orang memahami, bahkan dari mereka yang menjalankan proses itu sendiri ( berlaku untuk semua tipe aktivis ), apalagi dari yang tidak menjalani proses tsb. ^^
soal propaganda negatif, tadi sudah saya katakan dalam realita, penggunaan frase Propaganda negatif dalam interpretasi suatu statemen adalah relatif.
btw. Dekonstruktifikasi juga bisa melalui tahapan yang terencana dan masif, ga cuma sporadis ;)
oh iya, emang ada ya partai yang udah pernah nyicipin kursi DPR tapi masih bersih? klo yang agak mendingan dikit sih ada... ^^
|
 | Eh, sy mau tanya ya? sekarang negara mana yang bener2 sudah menjalankan hukum Allah? trus hukum Allah tuh yang seperti apa? sepengetahuan saya semua juga masih di perdebatkan? ada yang fersi sunni dengan banyak turunannya (syafi'i,maliki,hanafi,hambali) atau syi'i sama dengan turunannya, saya bukan pesimis dengan negara islam, tapi apa bener harus seperti yang di tulis tulis itu, kita ada di Indonesia, bagaimana caranya menerapkan hukum islam tapi dengan cara yang ahsan, kayanya dengan dengan mendirikan negara islam dech, (bener bener mati gaya ane!!) |
 | Euceu nanya sama yang mau jawab, terserah mau golput ato nyontreng, pek we lah pokokna pang nunjukkeun ka euceu mana nu nagara nu bener2 ngajalankeun hukum islam, he....he.... |
 | Saya Golput karena inti dari demokrasi yang ada sekarang ini adalah Parlemen. Parlemen inilah yang posisinya lebih tinggi dari Allah Subhanahu Wata'ala, karena mereka seringkali membuat aturan, hukum, maupun undang2, yang kita ketahui bahwa madharat dari UU yang dihasilkan mereka ternyata lebih besar. Boleh dilihat, 30 tahun lebih, apakah UU telah menyejahterakan rakyat?? padahal 95% anggota parlemen adalah muslim. Bukankah hukum hanya Allah Subhanahu Wata'ala saja yang berwenang? Segala macam aturan sosial ekonomi telah ada hukum yang ditetapkan-Nya. Lalu kenapa harus dibuat hukum kontrak karya yang tujuannya untuk pemodal? Pemodal adalah Tuhan dalam demokrasi, kita tidak bisa mengingkari itu. Apapun hukum yang dibuat oleh Parlemen pasti akan terpentok oleh Tuhan yang bernama "Pemodal/kapitalis" dan rakyatpun yang jadi korbannya. Bahwa bumi, air, dan seluruh kekayaan alam seharusnya dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Tapi sudah seberapa besar manfaat dan madharat yang kita peroleh dengan sistem demokrasi selama puluhan tahun ini?? Jika dikatakan lebih besar manfaatnya, benarkah itu?? So, sistem demokrasi inilah biangnya. Michael schummacer disuruh nyopir angkot paling banter kecepatannya cuman 120 km/jam. yang salah bukan michael schummacer-nya tapi mobilnya memang cuman segitu aja kemampuannya. Umat muslim Indonesia itu 95% dan jika 95% tidak mengikuti pemilu apakah parlemen dan negara yang terbentuk sah?? Jika ditakutkan seperti kasusnya mustafa kemal attaturk, yang salah attaturk atau keimanan dan ketakwaan kaum muslim turki?? Jika semua penduduk beriman dan bertakwa, yakinlah bahwa akan dimudahkan jalan untuk membentuk sistem baru yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Pertanyaannya kenapa kita masih ragu dengan janji Allah Subhanahu Wata'ala?? jawabannya, itulah mengapa kita terpuruk seperti saat ini.
Ali - suaminya fifi demak :) Bolehkan mas yung kalo aku ngajak istriku golput? |
Comment deleted at the request of the author.
 | noorahmat wrote on Mar 18, '09, edited on Mar 18, '09 ketika seseorang mengajak untuk golput dan (tentunya) mengemukakan alasannya apakah itu anda sebut propaganda negatif? kalau iya, maka dengan kata lain anda menyarankan mereka yang golput ga usah lah ajak2 orang, sehingga kalau anda emang konsisten (kecuali pake standar ganda) maka anda juga ga usah ajak orang2 untuk memilih :P.  Karena saya tidak ingin menggunakan standar ganda, maka jangan ajak-ajak orang untuk Goput yang akan menimbulkan reaksi dari pendukung Fatwa MUI untuk mengajak yang Golput untuk turut memilih...... Kecuali anda menerapkan standar ganda dengan statement, "biarkan kami untuk terus mempropagandakan Golput, dan bungkamlah orang yang mendukung fatwa MUI....^__^
Kalau anda jeli, maka anda akan melihat bahwa Fatwa MUI adalah reaksi Ulama terhadap Propaganda GOLPUT yang dikibarkan oleh sebagian kalangan Muslim.
Wallahua'lam....^__^ |
 | saya tidak butuh jawaban anda kok, tapi jawabannya mas yung... :D tapi nggak papa lah... demokrasi itu sudah bathil dari awalnya.. ibarat sekolah kristen/katholik favorit yang banyak sekali murid2nya juara olimpiade fisika, matematika, sekolahnya mewah, bagus, dll... Tapi banyak juga kok orang tua muslim yang menggadaikan aqidah anaknya untuk masuk ke sekolah itu, padahal tiap pagi mereka selalu berucap sumpah dan bersaksi atas nama tuhan mereka, dan biasanya yang disuruh memimpin sumpah ya murid2 yang muslim... Begitu juga demokrasi, setelah masuk parlemen mau nggak mau semua bersumpah untuk demokrasi, kapitalis, dan kawan2nya, nggak ada tuh bersumpah menegakkan syariat, menegakkan kalimah Allah Subhanahu Wata'ala.. Dari semua negara demokrasi adakah yang berhasil menyejahterakan rakyatnya?? Kalo ada, sebutkan negara mana.. Nyata2 sekarang amerika dan eropa hancur karena kapitalisme dan liberalisme.. Dan kita masih tetep ngikut jalan mereka yang jelas2 sudah masuk jurang?? Kita nggak ada ancaman mati kok kalo nggak masuk parlemen, masih banyak cara berjuang yang lebih baik, jadi nggak ada alasan darurat. darurat itu kalo ancamannya mati. Kalau semua mengandalkan da'i dan 'ulama ya sudahlah mau bagaimana lagi memang sebagian besar orang indonesia selalu mengkambing hitamkan pihak lain untuk cuci tangan. padahal tau sendiri perbandingan da'i/'ulama dengan jumlah penduduk. Kita jumlahnya banyak, tapi yang cerdas tidaklah banyak.. 95% penduduk Indonesia booooo......... Bisa-bisanya kalah sama ahmadiyah, JIL, dkk
Afwan.. |
 | Berikut sumpah anggota parlemen demokrasi indonesia (www.dpr.go.id) : Bunyi sumpah/janji Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (3): Demi Allah (Tuhan) saya bersumpah; bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya; bahwa saya akan memegang teguh Pancasila dan menegakkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta peraturan perundang-undangan; bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi serta berbakti kepada bangsa dan negara; bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Allah dijadikan sumpah untuk memegang teguh UUD, bukan Alqur'an dan juga bukan islam.. Itulah Realita kehidupan, kadang memang pahit ya melihat realita kalau kita mati-matian membela yang bathil, bersukacita memilih dan menjerumuskan saudara kita sesama muslim ke dalam kebathilan.. Itulah Realita hidup.. hehehehe.....
Walaupun PKS (yang katanya partai bersih) menguasai parlemen lebih dari 20%, apakah bisa merubah bunyi sumpah yang menjadi pondasi parlemen demokrasi indonesia itu tanpa pertumpahan darah?? Perlu diingat, dibalik parlemen ada Tuhan yang bernama kapitalis. UU Pornografi hanya untuk menyenangkan kaum muslim secara semu, padahal biangnya para pengusaha porno adem ayem aja tuh... kawasan mangga besar, sarkem, dolly, diskotik, lokalisasi, dan industri porno tetep hidup dan tidak tersentuh sama sekali tuh... Selama ada banyak partai, selama sistem demokrasi yang dipakai, yang ada hanya kompromi, koalisi, dll yang intinya sama saja..
Kita Golput bukan tidak memilih, tetapi memilih jalan lain yaitu penegakan syariat islam. Jangan kira orang2 seperti kami ini pasif, hanya saja kami bersabar dan mempersiapkan diri menunggu kehancuran demokrasi, mempersiapkan aqidah dsb untuk menyongsong momen yang telah Allah Subhanahu Wata'ala janjikan itu. Buat kami menghindari comberan dengan membuat jembatan itu lebih baik, walaupun tetap bisa terkena cipratan air comberan itu, daripada bersukaria menceburkan diri ke comberan dengan berpikir bahwa nanti juga bisa dibersihkan dengan mandi.
Jadi siapa yang berpikir, siapa yang beradu dalil, dan siapa yang tangguh menghadapi realita dengan tetap memegang buhul yang kuat?? introspeksi diri saja, sudah sejauh mana keyakinan kita pada Allah Subhanahu Wata'ala, pada firman-Nya yang tertuang dalam Alqur'an (?) Jika kita yakin, kenapa kita masih harus menempuh jalan bathil (?) Lantas apa gunanya Alqur'an (?) Jika masih tetap beranggapan bahwa sistem demokrasi indonesia saat ini adalah jalan yang baik untuk menegakkan syariat islam, tunjukkan dimana baiknya?? Sekali bathil tetap bathil, comberan tetap comberan, jangan dibengkok-bengkokan seolah itu jalan yang lurus.. Jangan dikira kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat ketika kita bersukaria memilih saudara kita untuk kita jerumuskan ke dalam comberan kebathilan.
karena mas yung tidak menjawab juga, cukup sampai disini saja
Wassalamu'alaykum... mazalie@gmail.com |
 | Saya Golput karena inti dari demokrasi yang ada sekarang ini adalah Parlemen. Parlemen inilah yang posisinya lebih tinggi dari Allah Subhanahu Wata'ala, karena mereka seringkali membuat aturan, hukum, maupun undang2, yang kita ketahui bahwa madharat dari UU yang dihasilkan mereka ternyata lebih besar. Boleh dilihat, 30 tahun lebih, apakah UU telah menyejahterakan rakyat?? padahal 95% anggota parlemen adalah muslim.  ali, siapa yg mengatakan inti demokrasi sekarang ini adalah parlemen? kalo inti demokrasi adalah parlemen, lalu kulitnya apa, pohonnya apa, daunnya apa, dan buahnya apa? nggak usah dipaksain bikin judge sendirilah. justru inti dari golput adalah khianat. Allah menyuruh kita untuk memberikan kesaksian saat diminta dan kita tidak boleh menolak. kata Allah: “dan janganlah para saksi itu menolak saat mereka diminta kesaksiannya.” (al-baqarah: 282)
Allah juga melarang kita menyembunyikan kesaksian: “dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian. dan barangsiapa yg menyembunyikan kesaksiannya, maka hatinya berdosa.” (al-baqarah: 283)
posisi parlemen juga tidak lebih tinggi dari Allah. hanya mereka yg suka mengada2 yg mengatakan demikian. lagi pula, ngapain kawan2 antum hobi demo menyuarakan ini itu di depan gedung dpr/mpr kalo memang parlemen lebih tinggi dari Allah? paradoks!
hukum apa pun yg dibuat dpr posisinya di bawah hukum Allah. mereka yg mengatakan produk hukum dpr di atas hukum Allah adalah orang2 yg tidak konsisten dan setengah hati. tidak ke sana dan tidak ke sini. kalo bahasa al-qur`annya: laa ilaa haa`ulaa` walaa ilaa haa`ulaa`.
saya hanya mau menggarisbawahi: pertama; jangan lagi menyuarakan aspirasi di halaman gedung dpr untuk menelorkan atau mendukung uu tertentu kalo memang produk hukum dpr di atas hukum Allah. kedua; apa antum cs. ini pernah nanya langsung ke para anggota dpr bahwa mereka berniat memposisikan hukum2 yg dibuatnya di atas hukum Allah? ketiga; tidak semua anggota dpr muslim. pun tidak semua muslim di dpr adalah muslim yg taat. dan tidak semua muslim di dpr mempunyai komitmen menegakkan syariat. makanya, pilih wakil rakyat yg komitmen menegakkan syariat. kalo wakil yg antum pilih ternyata tidak komitmen, baru silakan protes. |
 | Bukankah hukum hanya Allah Subhanahu Wata'ala saja yang berwenang? Segala macam aturan sosial ekonomi telah ada hukum yang ditetapkan-Nya. Lalu kenapa harus dibuat hukum kontrak karya yang tujuannya untuk pemodal? Pemodal adalah Tuhan dalam demokrasi, kita tidak bisa mengingkari itu. Apapun hukum yang dibuat oleh Parlemen pasti akan terpentok oleh Tuhan yang bernama "Pemodal/kapitalis" dan rakyatpun yang jadi korbannya. Bahwa bumi, air, dan seluruh kekayaan alam seharusnya dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Tapi sudah seberapa besar manfaat dan madharat yang kita peroleh dengan sistem demokrasi selama puluhan tahun ini??  sumber hukum tertinggi adalah al-qur`an dan sunnah. itu pasti. tapi, antum nggak usah berlebihanlah, mengatakan; “segala macam aturan sosial ekonomi telah ada hukum yang ditetapkan-nya!” secara global, al-qur`an dan sunnah sudah mencakup segala lini kehidupan. tapi tidak rinci. apa yg belum ada dalam keduanya, umat islam bisa menentukannya sendiri selama masih sekoridor dan tidak bertentangan dengan keduanya. lha wong baru aja sesaat ditinggal nabi wafat, para sahabat sudah berbeda pendapat dalam menentukan siapa pengganti beliau kok, bisa2nya mengatakan: “segala macam aturan sosial ekonomi telah ada hukum yang ditetapkan-nya?” antum mau contoh bidang sosial apa ekonomi? apa dalam al-quran dan sunnah ada rt rw? apa dalam al-qur`an dan sunnah ada pembayaran via atm? ini baru contoh kecil. Yg jelas jika segala hal sudah ada hukumnya, niscaya tidak akan ada yg namanya ijtihad. Padahal, perintah berijtihad ada dalam sunnah. Bahkan orang yg salah ijtihadnya mendapatkan (satu) pahala. Dan, niscaya tidak akan ada kitab2 fiqih yg sedemikian banyaknya. Karena semua kitab2 fiqih penuh dengan ijtihad. Juga, tidak akan ada madzhab dalam islam.
soal kontrak karya gak usahlah dibawa2. ini mengada2. mungkin itu di telkomsel tempat antum kerja yg konon sebagian sahamnya dijual ke yahudi. yg jelas, tidak semua anggota dpr setuju kontrak karya. makanya, pilih wakil rakyat yg anti kontrak karya.
apa pun? maksudnya semuanya gitu? ah nggak juga. gak semua undang2 ada kaitannya dengan pemodal. lagi pula yg nganggep pemodal sebagai tuhan itu kan mungkin mereka yg golput. setau saya, orang yg nyontreng nggak berpandangan demikian.
antum ini bertanya tentang manfaat demokrasi. ada atau tidak manfaatnya. antum kuliah di PT negri lalu jadi sarjana dan bisa bekerja di tempat sekarang ini apa nggak antum syukuri? demokrasi jelas bukan segalanya. tapi segala yg terjadi sejak puluhan tahun di negri ini, ya kenyataannya kita pake sistem demokrasi. kalo mau syariat islam yg diterapkan, ya pilihlah wakil rakyat yg pro syariat islam. syariat islam nggak akan bisa ditegakkan di negeri ini kecuali lewat jalur parlemen dan kekuasaan. revolusi yg akan menumpahkan darah sesama muslim dan menghabiskan sekian kali lipat dari ongkos pemilu untuk perangnya, justru jauh lebih besar madharatnya. itulah makanya, jangan mengharamkan demokrasi demi madharat yg jauh lebih besar madharatnya.
madharat jelas ada. tapi apa yg terjadi kalo gak ada orang muslim di parlemen dan pemerintahan? ali, kalo tidak bisa menghilangkan semua madharat, tugas kita adalah memperkecil madharat sebisa mungkin. |
 | Umat muslim Indonesia itu 95% dan jika 95% tidak mengikuti pemilu apakah parlemen dan negara yang terbentuk sah?? Jika ditakutkan seperti kasusnya mustafa kemal attaturk, yang salah attaturk atau keimanan dan ketakwaan kaum muslim turki??  angka 95% dari mana? yg jelas, hasil pemilu tetap legitimate berapa pun yg ikut pemilu; sedikit maupun banyak. apa antum kira kalo jumlah umat islam di indonesia ini sampe 95% (baca: mayoritas) terus bisa langsung menang sim salabim begitu mentang2 mayoritas? katanya anti demokrasi, kok ngomong angka 95%. ini sama saja dengan mengatakan mayoritas menang lawan minoritas. ini justru bukan syuro. ya ini yg namanya demokrasi, ali…. kalo syuro, nggak usah lah ngomong angka ato jumlah penduduk muslim di indonesia. ini namanya inkonsisten alias nggak jelas. orang gontor (santri pondok gontor) bilang; laa yajlis (nggak jelas).
kasus ataturk ini fakta dan udah terjadi. mau bilang apa? apa antum mau menyalahkan keimanan dan ketakwaan kaum muslim turki? lha katanya ingin mengembalikan khilafah dan berduka dengan runtuhnya turki utsmani. gimana sih? kalo keimanan dan ketakwaan umat islam turki sudah bobrok, ya nggak perlu ditangisilah. mungkin ini pelajaran dari Allah. dan kalo ketakwaan dan keimanan kaum muslim turki itu sangat bagus, kenapa bisa runtuh kekhilafahannya? afalaa ta’qiluun?
justru, mestinya kita bisa mengambil ibrah dari runtuhnya daulah utsmaniyah ini. apa pun yg terjadi, ternyata penggulingan kekuasaan turki itu terjadi saat kaum muslimin dan penguasanya sudah sangat lemah kekuatannya, terutama kekuatan militer (soal kekuatan iman dan takwa, kita serahkan pada Allah, meski secara zhahir tampak demikian). dan, bisa dipastikan bahwa hampir semua khilafah, baik itu khilafah rasyidah, khilafah bani umayyah, maupun khilafah bani abbas; keruntuhannya adalah pada masa2 terlemahnya. artinya, umat islam indonesia ini hanya bermimpi jika akan menggulingkan pemerintahan yg lagi kuat2nya untuk menegakkan syariat. apa kurangnya pelajaran dari umat2 yg lalu? |
 | Jika semua penduduk beriman dan bertakwa, yakinlah bahwa akan dimudahkan jalan untuk membentuk sistem baru yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata'ala.  ini janji Allah dalam surat apa ayat berapa? baca baik2:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“sekiranya semua penduduk desa itu beriman dan bertakwa, sungguh akan aku bukakan pintu berkah dari langit dan bumi untuk mereka.” (al-a’raf: 96)
menurut ibnu katsir, al-baghawi, dan as-suyuthi; berkah dari langit dan bumi adalah hujan dan tumbuh2an. ibnu adil (tafsir al-lubab) dan ar-razi menambahkan makna berkah di bumi; tumbuh2an, buah2an, hewan piaraan, binatang ternak, keamanan, dan keselamatan. al-alusi, asy-syaukani, abus su’ud, az-zamakhsyari, dan al-baidhawi menambahkan; .. dan semua jenis kebaikan, serta dimudahkan (kebaikan itu) dari segala sisi. ibnu asyur mengatakan; segala macam jenis berkah. kitab2 tafsir lainnya menafsirkan berkah dari langit dan bumi kurang lebih seperti yg kami sampaikan di atas. saya tidak menemukan ada kitab tafsir yg menyebutkan bahwa yg dimaksud ayat ini adalah bahwa kalau semua penduduk desa itu beriman dan bertakwa akan dimudahkan jalan untuk membentuk sistem baru yang diridhoi oleh Allah. tidak ada.
untuk mendapatkan berkah dari Allah, kita memang harus beriman dan bertakwa. tapi kalo mau mengganti sistem, ya dengan usaha dan perbuatan. tidak cukup hanya dengan iman dan takwa saja. orang yg beriman dan bertakwa yang berhenti di tengah jalan ramai, kemungkinan besar dia akan tertabrak kendaraan kalo nggak mau berusaha minggir atau menghindar. harus ada usaha nyata dan perbuatan. bener juga kalo ada yg bilang bahwa hidup adalah perbuatan. keyakinan saja tidak cukup. harus ada amal soleh.
jadi harus disambung; iman, takwa, amal soleh, dan tawakal. setelah seseorang punya iman dan takwa, dia mesti beramal, berbuat sesuatu untuk sesuatu. setelah itu baru tawakal. sebab, Allah nggak akan mengubah nasib kita kalo kita sendiri nggak ada usaha untuk mengubahnya. kalo kita hanya iman dan takwa saja, Allah nggak akan memudahkan jalan untuk membentuk sistem baru yang diridhoi-Nya, kecuali dengan usaha, yakni kita sendiri yg mengusahakan terbentuknya sistem tsb. kata Allah, “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri yg mengubah nasibnya.” (ar-r’ad: 11)
satu hal yg perlu saya tekankan di sini tentang tafsiran aneh yg dipaksakan ini. sungguh, sebetulnya ini adalah PELECEHAN TERHADAP PARA KHULAFAUR RASYIDIN. kenapa? sebab, ini sama saja dengan mengatakan bahwa orang2 pada masa mereka (yakni para sahabat) buruk kualitas iman dan takwanya sehingga digantikan oleh dinasti bani umayyah!
selanjutnya, ini sama saja dengan mereka mengatakan bahwa sistem monarki itu lebih mereka sukai daripada sistem syura yg mereka dengung2kan! afalaa tubshiruun…. |
 | elhas wrote on Mar 24, '09 Karena saya tidak ingin menggunakan standar ganda, maka jangan ajak-ajak orang untuk Goput yang akan menimbulkan reaksi dari pendukung Fatwa MUI untuk mengajak yang Golput untuk turut memilih....  aduh, ketinggalan jauh, saya kira udah beres karena remindernya dah ga muncul di email -_______-
@noorahmat ==== siapa ya yang pake standar ganda? saya bilang saling mengganggu artinya adanya gangguan dari pihak yang golput maupun tidak, dan artinya saya mengakui bahwa keduanya memang secara nature saling mengganggu...
owh... jangan ajak2 orang untuk golput katanya? berarti melarang orang2 yang berpaham golput atau anti demokrasi untuk melakukan dakwah
maka sebagai padanannya anda juga harus berhenti mengajak orang untuk memilih, dan tentu saja anda tidak akan setuju dengan statemen itu...
jadi... kata anda : untuk yang golput jangan ganggu kami, dan kami akan tetap ngajak orang untuk milih...
dalam persoalan gangguan ini, saya tidak memojokkan salah satu pihak karena posisinya sama. yang saya pojokkan justru orang2 yang berstandar ganda,,, yang menganggap kaidah ganggu mengganggu ini hanya berlaku bagi lawan kelompoknya saja. sementara dia tidak merasa kelompoknya terganggu...
jadi siapakah yang berstandar ganda?
(shoot on yourself? ooohhh you're sooo.... kind? heh? ) |
 | elhas wrote on Mar 24, '09 Insya Allah yang masih bersih ada...walau selalu dijadikan sasaran tembak agar tampak tidak bersih dihadapan media...
Insya Allah yang agak mendingan dikit juga ada...walau dikotori dengan beberapa anggotanya yang terbukti kebusukannya dan mencoba menyeret Partai yang bersih agar tembakan yang tendensius di hadapan media...  sayangnya beberapa di antara sasaran tembak itu terbukti nyata dan bukan sekedar sasaran tembak namun juga pengungkapan kebenaran. memang ada tuduhan yang terbukti fitnah, tapi yang terbukti berdasar juga ada
kalau parte yang disebut kedua mah, ya wayahna. bukan parte Islam. |
 | elhas wrote on Mar 24, '09, edited on Mar 25, '09 logika anda yang mentafsirkan "kewajiban" itu. semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala membukakan pintu Hikmah bagi kita semua. Wallahua'lam.  owwwh... makanya klo bicara yang jelas... satu pertanyaan dari saya untuk menjelaskan hal ini...:
- bagaimana cara mengoptimalkan hak pilih? atau lebih jelasnya, apakah golput berarti tidak mengoptimalkan hak pilih? |
 | elhas wrote on Mar 24, '09 justru inti dari golput adalah khianat. Allah menyuruh kita untuk memberikan kesaksian saat diminta dan kita tidak boleh menolak. kata Allah: “dan janganlah para saksi itu menolak saat mereka diminta kesaksiannya.” (al-baqarah: 282)
Allah juga melarang kita menyembunyikan kesaksian: “dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian. dan barangsiapa yg menyembunyikan kesaksiannya, maka hatinya berdosa.” (al-baqarah: 283)  oh my! ustadz, qiyas anda aneh sekali menyamakan antara "memberikan suara dalam pemilu" dengan "memberikan kesaksian" ngga masuk itu!
|
 | elhas wrote on Mar 24, '09 bukan kita. tapi antum dan kawan2 antum yg ragu. yg lain nggak usah dibawa2.
kita terpuruk ya karena antum dan dkk antum golput. apa lagi?  tuduhan yang ini juga tidak berdasar dan sangat subjektif. sudah dikatakan dalam suatu hadits bahwa ummat Islam akan diperebutkan karena cinta dunia dan takut mati.
menyalahkan orang yang golput benar2 tidak argumentatif sekali... kok bisa ya segitu sporadisnya anda menyalahkan mereka yang golput? i'm really wondering...
---------------------------------------------
btw, jangan2 anda mulai menganggap syariat Islam bisa tegak di atas sistem demokrasi? mudah2an tidak ya, na'udzubillahi min dzaalik |
 | tuduhan yang ini juga tidak berdasar dan sangat subjektif. sudah dikatakan dalam suatu hadits bahwa ummat Islam akan diperebutkan karena cinta dunia dan takut mati.
menyalahkan orang yang golput benar2 tidak argumentatif sekali... kok bisa ya segitu sporadisnya anda menyalahkan mereka yang golput? i'm really wondering...
---------------------------------------------
btw, jangan2 anda mulai menganggap syariat Islam bisa tegak di atas sistem demokrasi? mudah2an tidak ya, na'udzubillahi min dzaalik  ini bukan murni tuduhan, melainkan membalikkan pernyataan dengan pertanyaan. bisa jadi benar, bisa juga hampir benar. logika bicara, kalo yg ikut pemilu cuman non muslim, praktis negara ini pun akan dipegang oleh non muslim. kita umat islam akan terjepit dan tidak merdeka menjalan syariat. jika kekuasaan di tangan non muslim, penguasa akan dengan mudah minta bantuan amerika dan konco2nya jika mereka merasa perlu untuk 'membasmi' umat islam di indonesia.
temen saya yg golput berkata: ya nanti kita berontak. kita jihad. kita gulingkan pemerintah yg zhalim. ini mimpi. sungguh kita saat itu hanya menang jumlahnya. kita memang banyak. tapi kita ini lemah, karena banyak umat islam yg kena penyakit wahn; cinta dunia dan takut mati.
hadits yg antum sebutkan itu sebaiknya antum renungkan sendiri. saat umat islam cinta dunia dan takut mati, plus kekuasaan di tangan non-muslim; apa bukan mimpi kalo kita mau berontak dan mengumandangkan jihad?
btw juga, syariat islam bisa tegak di atas sistem apa pun. karena islam itu ya'luu walaa yu'laa 'alaih. islam itu paling tinggi, tidak ada yg lebih tinggi dari islam. syariat islam bisa tegak di atas sistemnya abu bakar, umar, utsman, dan ali. syariat islam juga bisa tegak di atas sistem monarkinya khilafah bani umayyah, khilafah bani abbas, dan khilafah turki utsmani. karena apa? karena islam itu akan menshibghah sistem apa pun yg ada di bawahnya. |
Comment deleted at the request of the author.
 | elhas wrote on Mar 25, '09 btw, if you have looked at my guestbook carefully, you could have found my real identity. so please, don't let your laziness or carelessness deflect the flow ;)
|
Comment deleted at the request of the author.
 | elhas wrote on Mar 25, '09, edited on Mar 25, '09 akhi, memberikan suara dalam pemilu sama saja dengan kita memberikan kesaksian bahwa orang atau partai yang kita contreng adalah yg terbaik, minimal menurut kita. di mana letak nggak masuknya? justru kalo kita asal contreng, ini sama saja dengan menodai kesaksian. dan ini jika dilakukan secara sengaja jelas tidak boleh.  ayat lengkapnya seperti ini, kan ( yang ustadz kutip saya bold) :
282. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
sayang sekali ustadz, yang dimaksud "saksi" pada ayat itu bukanlah seluruh jenis saksi secara umum, sehingga tidak bisa kita memirip2kan sesuatu secara logika bahasa Indonesia dengan kata "saksi"
maksud saksi pada ayat :orang yang memiliki pengetahuan tentang kebenaran yang dimiliki oleh suatu saksi, yang tidak diinterpretasikan oleh simbol lain selain kebenaran yang dia lihat itu sendiri. jadi dia (should) menceritakan kejadian yang dia saksikan, sebagaimana yang dia saksikan, bukan menginterpretasikan dalam bentuk informasi lain ( dalam hal ini, a vote ) entah dalam bentuk tertulis, lisan atau rekonstruksi.
Qiyas yang lebih tepat untuk hal ini (kalaupun mau main2 dengan definisi saksi), jika suatu partai dituduh dalam suatu skandal namun anda mengetahui kebenaran bahwa skandal tersebut adalah fitnah dan anda dipanggil untuk bersaksi, maka anda tidak boleh menolak.
jadi tidak masuknya adalah pada definisi kesaksian yang anda main2kan.
dan hal ini diperjelas oleh teks keseluruhan ayat yang membahas "pentingnya pencatatan dalam transaksi (ekonomi)" berikut instrumen-instrumennya yang di antaranya adalah saksi. tidak ada relasi dengan aspirasi masyarakat dalam pemerintahan ( ga cuma pemilu ), namun, definisi yang lebih relevan jika kita kaitkan pada masyarakat kontemporer adalah saksi dalam persengketaan atau peradilan, yaitu saksi yang menuturkan hal-hal yang telah dia saksikan sebelumnya terkait dengan kasus tertentu, secara apa adanya. bahkan, dalam ayat ini, jelas2 lagi saksi yang dimaksud itu definisinya lebih khusus, yaitu saksi yang telah diangkat sebelumnya oleh kedua pihak yang bertransaksi.
kapan saya diangkat untuk menjadi saksi dalam menentukan partai yang terbaik? saya engga pernah aqad untuk jadi saksi seperti itu. pun tidak dengan yang lainnya, bukan begitu, ustadz?
|
 | elhas wrote on Mar 25, '09 ini bukan murni tuduhan, melainkan membalikkan pernyataan dengan pertanyaan. bisa jadi benar, bisa juga hampir benar. logika bicara, kalo yg ikut pemilu cuman non muslim, praktis negara ini pun akan dipegang oleh non muslim. kita umat islam akan terjepit dan tidak merdeka menjalan syariat. jika kekuasaan di tangan non muslim, penguasa akan dengan mudah minta bantuan amerika dan konco2nya jika mereka merasa perlu untuk 'membasmi' umat islam di indonesia.  seperti pernah saya tuliskan dahulu, ketika demokrasi ini hanya diikuti oleh sebagian kecil rakyat ( non muslim ) lalu seluruh muslim menolak demokrasi, maka pemerintahan tidak akan memiliki legitimasi yang kuat. maka saat itulah demokrasi sebagai sistem telah runtuh. jadi dengan pemerintahan yang lemah seperti itu, mau menjepit siapa? justru yang ada pemerintahan seperti itu akan kehilangan wilayahnya satu per satu, baik wilayah geografis, maupun wilayah legitimasi.
jadi, jangan menganalisis suatu keadaan di masa depan dengan cateris paribus, karena setiap variabel berubah. kalau ummat Islam sepakat menolak demokrasi dan menghendaki syariat Islam tegak, masihkah penggulingan sistem disebut sebagai "mimpi"?
|
 | elhas wrote on Mar 25, '09 btw juga, syariat islam bisa tegak di atas sistem apa pun. karena islam itu ya'luu walaa yu'laa 'alaih. islam itu paling tinggi, tidak ada yg lebih tinggi dari islam. syariat islam bisa tegak di atas sistemnya abu bakar, umar, utsman, dan ali. syariat islam juga bisa tegak di atas sistem monarkinya khilafah bani umayyah, khilafah bani abbas, dan khilafah turki utsmani. karena apa? karena islam itu akan menshibghah sistem apa pun yg ada di bawahnya.  demokrasi memiliki satu filosofi penting, yaitu, kekuasaan berada di tangan rakyat, people power. sehingga, landasan kebenaran yang utama adalah rakyat. ketika rakyat menyuarakan aspirasi yang menentang syariat Allah, maka demokrasi memenangkan aspirasi tsb. jadi, demokrasi tidak bisa hidup berbarengan dengan khilafah 'ala minhajin nubuwwah, karena perbedaan dasar kebenaran yang digunakan.
kedua, bentuk penegakan syari'at Islam pada masa Bani Umayya, Abbasid dan Uthmaniyya, bukanlah bentuk khilafah 'ala minhajin nubuwwah sebagaimana hadits riwayat ahmad. dan sistemnya abu bakar, umar, uthman dan ali, tidaklah memiliki pertentangan dalam hal dasar kebenaran yang digunakan sebagaimana demokrasi ;) |
 | sayang sekali ustadz, yang dimaksud "saksi" pada ayat itu bukanlah seluruh jenis saksi secara umum, sehingga tidak bisa kita memirip2kan sesuatu secara logika bahasa Indonesia dengan kata "saksi"
maksud saksi pada ayat :orang yang memiliki pengetahuan tentang kebenaran yang dimiliki oleh suatu saksi, yang tidak diinterpretasikan oleh simbol lain selain kebenaran yang dia lihat itu sendiri. jadi dia (should) menceritakan kejadian yang dia saksikan, sebagaimana yang dia saksikan, bukan menginterpretasikan dalam bentuk informasi lain ( dalam hal ini, a vote ) entah dalam bentuk tertulis, lisan atau rekonstruksi.
Qiyas yang lebih tepat untuk hal ini (kalaupun mau main2 dengan definisi saksi), jika suatu partai dituduh dalam suatu skandal namun anda mengetahui kebenaran bahwa skandal tersebut adalah fitnah dan anda dipanggil untuk bersaksi, maka anda tidak boleh menolak.
jadi tidak masuknya adalah pada definisi kesaksian yang anda main2kan.  sekitar tahun 96, syaikhul azhar Prof. DR. Muhammad Sayyid Thanthawi (doktor tafsir, waktu itu masih mufti mesir) ditanya tentang hukum ikut pemilu. beliau menjawab: hukumnya WAJIB. lalu beliau membaca ayat yg saya sebutkan.
bagaimana mungkin antum mengatakan saya mempermainkan ayat, sementara ulama besar doktor tafsir sekaliber syaikh thanthawi saja menggunakan ayat tersebut saat ditanya hukum pemilu? |
 | seperti pernah saya tuliskan dahulu, ketika demokrasi ini hanya diikuti oleh sebagian kecil rakyat ( non muslim ) lalu seluruh muslim menolak demokrasi, maka pemerintahan tidak akan memiliki legitimasi yang kuat. maka saat itulah demokrasi sebagai sistem telah runtuh. jadi dengan pemerintahan yang lemah seperti itu, mau menjepit siapa? justru yang ada pemerintahan seperti itu akan kehilangan wilayahnya satu per satu, baik wilayah geografis, maupun wilayah legitimasi.
jadi, jangan menganalisis suatu keadaan di masa depan dengan cateris paribus, karena setiap variabel berubah. kalau ummat Islam sepakat menolak demokrasi dan menghendaki syariat Islam tegak, masihkah penggulingan sistem disebut sebagai "mimpi"?
 kalo demokrasi runtuh sementara penguasa sudah eksis, justru berbahaya. ini bisa membuat mereka menjadi tirani. amerika dan antek2nya tak akan membiarkan indonesia yg sudah 'dipegang' orang mereka jatuh ke tangan 'orang lain'.
analisa itu kan ada dasarnya. faktanya selama ini memang demikian. umat islam tak akan dibiarkan berkuasa secara mutlak oleh musuh2nya. apalagi jika ditempuh melalui rovolusi.
kalo antum mengatakan semua umat islam sepakat menolak demokrasi dan semuanya menghendaki syariat islam tegak, ini apa bukan mimpi? al-qur`an sendiri mengatakan bahwa umat islam ini ada tiga macam; zhalimun li nafsih, muqtashid, dan saabiqun bil khairat. (lihat fathir 32) para ahli tafsir mengatakan, bahwa jumlah kelompok pertama lebih banyak dari yg kedua. dan kelompok kedua lebih banyak dari kelompok pertama.
selama pdip, golkar, dll. masih ada, umat islam tak akan bisa sepakat menolak demokrasi. |
 | demokrasi memiliki satu filosofi penting, yaitu, kekuasaan berada di tangan rakyat, people power. sehingga, landasan kebenaran yang utama adalah rakyat. ketika rakyat menyuarakan aspirasi yang menentang syariat Allah, maka demokrasi memenangkan aspirasi tsb. jadi, demokrasi tidak bisa hidup berbarengan dengan khilafah 'ala minhajin nubuwwah, karena perbedaan dasar kebenaran yang digunakan.
kedua, bentuk penegakan syari'at Islam pada masa Bani Umayya, Abbasid dan Uthmaniyya, bukanlah bentuk khilafah 'ala minhajin nubuwwah sebagaimana hadits riwayat ahmad. dan sistemnya abu bakar, umar, uthman dan ali, tidaklah memiliki pertentangan dalam hal dasar kebenaran yang digunakan sebagaimana demokrasi ;)  lupakan dulu filosofi itu. kita bicara fakta aja. waktu perang uhud, nabi dan beberapa sahabat senior ingin menyambut kaum kafir quraisy di dalam madinah. tapi mayoritas sahabat terutama sahabat2 yg masih muda, menginginkan kaum muslimin menyambut di luar madinah. akhirnya, kaum muslimin pun keluar menyambut musuh di luar madinah, yakni di uhud. ini kekuatan rakyat bukan?
sesungguhnya kekuatan rakyat itu tidak bisa dimutlakkan. artinya, selama itu tidak bertentangan dengan syariat, bisa saja dalam hal2 tertentu kebenaran ada di tangan rakyat. karena bagaimanapun pemimpin juga manusia.
bani umayyah bukan di atas minhaj nubuwah? ini sama saja dengan menghina muawiyah bin abi sufyan. juga menghina abdullah bin zubair yg sempat menjadi khalifah di hijaz pada masa khalifah abdul malik bin marwan. juga menghina khalifah umar bin abdil aziz. antum kira syariat islam tidak tegak pada masa2 itu? subhanallah... |
 | setujuuu,, yg pro golput tu lagi ngak sadaar alias gak liat fakta. ( fakta sejarah, fakta yg terjadi kini etc ) banguun, banguun bung ??? |
 | kalo demokrasi runtuh sementara penguasa sudah eksis, justru berbahaya. ini bisa membuat mereka menjadi tirani. amerika dan antek2nya tak akan membiarkan indonesia yg sudah 'dipegang' orang mereka jatuh ke tangan 'orang lain'.
analisa itu kan ada dasarnya. faktanya selama ini memang demikian. umat islam tak akan dibiarkan berkuasa secara mutlak oleh musuh2nya. apalagi jika ditempuh melalui rovolusi.
kalo antum mengatakan semua umat islam sepakat menolak demokrasi dan semuanya menghendaki syariat islam tegak, ini apa bukan mimpi? al-qur`an sendiri mengatakan bahwa umat islam ini ada tiga macam; zhalimun li nafsih, muqtashid, dan saabiqun bil khairat. (lihat fathir 32) para ahli tafsir mengatakan, bahwa jumlah kelompok pertama lebih banyak dari yg kedua. dan kelompok kedua lebih banyak dari kelompok pertama.
selama pdip, golkar, dll. masih ada, umat islam tak akan bisa sepakat menolak demokrasi.  Bener Ustadz, kalau PDIP dan Golkar masih ada, Umat Islam tak akan sepakat menolak demokrasi, faktanya mereka selalu memenangkan suara terbanyak di Pemilu.
Selama kita tidak dilarang beribadah, apa salahnya kita menegakkan syari'at di atas demokrasi secara perlahan? Revolusi hanya akan berdampak buruk bvagi bangsa ini, karena akan banyak pihak-pihak yang ingin memanfaatkan keadaan saat terjadinya revolusi. |
 | demokrasi memiliki satu filosofi penting, yaitu, kekuasaan berada di tangan rakyat, people power. sehingga, landasan kebenaran yang utama adalah rakyat. ketika rakyat menyuarakan aspirasi yang menentang syariat Allah, maka demokrasi memenangkan aspirasi tsb. jadi, demokrasi tidak bisa hidup berbarengan dengan khilafah 'ala minhajin nubuwwah, karena perbedaan dasar kebenaran yang digunakan.
kedua, bentuk penegakan syari'at Islam pada masa Bani Umayya, Abbasid dan Uthmaniyya, bukanlah bentuk khilafah 'ala minhajin nubuwwah sebagaimana hadits riwayat ahmad. dan sistemnya abu bakar, umar, uthman dan ali, tidaklah memiliki pertentangan dalam hal dasar kebenaran yang digunakan sebagaimana demokrasi ;)  kelihatannya antum musti belajar sejarah jauh lebih banyak lagi. Paling tidak ke negeri terdekat kita. Singapura....
Singapura dulu sangat melayu, namun sekarang adzan saja tidak bisa, pesantren tidak boleh mengajarkan bahasa Arab. Kebebasan berekspresi sebagai seorang muslim dikebiri...karena dulu muslim memilih tidak berpartisipasi pada Pemilu Thagut, yang akhirnya Sultan hanya menjadi simbol, sedangkan kekuatan muslim semakin tereliminir karena pemerintahan dikuasai sepenuhnya oleh manusia bertangan besi "Lee Kuan Yew".
Alih-alih membiarkan kebobrokan minoritas berlangsung, ternyata sekarang muslim di Singapura justru menjadi minoritas.
Alangkah bijaknya bila antum lebih melihat dengan kedua mata dan qalbu tentang Hikmah yang Allah jabarkan di muka bumi agar kemudian dimanfaatkan oleh manusia yang berakal...
Singapura yang sekarang menjadi kekuatan Zionis di Asia Tenggara...dulunya adalah Kerajaan Islam yang tergabung dalam kerajaan Islam Malaya yang terikat dengan Kekhalifahan Utsmani...
Mungkin antum menginginkan Indonesia menjadi negeri Zionis terbesar di Asia Tenggara kelak...sehingga antum bisa dengan "mudah" menghancurkannya, seperti yang diimpikan muslim Singapura sesaat sebelum mereka akhirnya sadar dengan kekeliruan mereka... |
 | Hanya sebatas Asumsi2 terus...! |
Comment deleted at the request of the author.
 | elhas wrote on Mar 29, '09 kelihatannya antum musti belajar sejarah jauh lebih banyak lagi. Paling tidak ke negeri terdekat kita. Singapura....  wuaaw, i appreciate ur confidence... ^^
pertama, kalau bicara masalah-masalah yang kasuistik, kasus penegakan syariat Islam via demokrasi di aljazair bisa jadi contoh yang berlawanan dengan kasus singapura ini. hihihi... tapi tentunya tidak baik membuat kesimpulan yang luas tapi hanya berdasar satu kasus kan? makanya saya ngga berminat memajukan argumen kudeta militer di aljazair untuk mempertanyakan perjuangan via demokrasi karena itu kasuistik.
kedua, pada kenyataannya, demokrasi di Singapura belum pernah runtuh sejak negara itu berbentuk republik, jadi wajar saja jika pemerintahan yang dibentuk lewat demokrasi masih punya legitimasi yang kuat, karena pihak mayoritas-nya masih menjalankan demokrasi. sementara yang tadi sempet kita bahas itu tentang boikot demokrasi oleh masyarakat (Muslim) Indonesia dengan cara golput, yang notabene akan melemahkan demokrasi itu sendiri, karena tidak memenuhi filosofi "people power". Dan saat itulah, demokrasi yang membutuhkan kekuatan rakyat akan runtuh karena tidak didukung oleh rakyat itu sendiri. apakah contoh singapura relevan dengan bahasan yang saya maksud? i don't think so..
ketiga, ini yang agak aneh. anda mereply postingan saya dan mengutip tentang filosofi demokrasi yang saya bahas, tapi anda malah memberikan contoh kasus tanpa mengaitkannya dengan bahasan filosofi demokrasi yang anda kutip. so, apakah postingan anda relevan sebagai "reply" post? tentu saja tidak....
----------------
btw, sejak awal, saya tidak pernah menyatakan keinginan untuk menjadikan indonesia sebagai negeri zionis... dst. yang anda sebutkan, untuk "dihancurkan dengan mudah" sebagaimana yang juga anda sebutkan. apakah wacana golput yang saya bawa mengarahkan kepada konsekuensi tersebut? jawabannya tidak. karena saya mengharapkan runtuhnya demokrasi, bukan hanya runtuhnya partisipasi kaum Muslimin dalam demokrasi --sementara demokrasinya masih ada, kek di singapura--. sehingga, kasus singapura, bukanlah tujuan dari wacana yang saya bicarakan di atas...
- stay confident ya ;) -
PS : saya bermaksud mengutip keseluruhan argumen anda, saya hanya kutip awalnya karena khawatir terlalu panjang scrollnya nantinya |
 | elhas wrote on Mar 29, '09 asumsi ini terlalu banyak blank spot. Idealis namun mengabaikan banyak hal.  can u explain? seperti saya membahas asumsi anda soal : muslim banyak yang golput -> kafir berkuasa -> muslim ga bisa bergerak.
btw,intermezzo dikit, pembahasan soal asumsi ini juga turunan dari asumsi yang dulunya anda bawa tsb. ^^ |
 | elhas wrote on Mar 29, '09 sekitar tahun 96, syaikhul azhar Prof. DR. Muhammad Sayyid Thanthawi (doktor tafsir, waktu itu masih mufti mesir) ditanya tentang hukum ikut pemilu. beliau menjawab: hukumnya WAJIB. lalu beliau membaca ayat yg saya sebutkan.
bagaimana mungkin antum mengatakan saya mempermainkan ayat, sementara ulama besar doktor tafsir sekaliber syaikh thanthawi saja menggunakan ayat tersebut saat ditanya hukum pemilu?  ho... itu argumen? nah sekarang giliran saya yang tanya deh, gimana qiyas itu bisa masuk menurut ustadz? saya ingin mendengar pemahaman ustadz sendiri mengenai qiyas itu. so, bisa kasi rumusnya?
---
oh iya, pake metode even if ah...^^
even if qiyas tsb. masuk ( bukan berarti saya bilang qiyas tsb masuk lho), maka, golput, juga bisa saja didefinisikan sebagai sebuah kesaksian bukan? analoginya, misalkan ada seorang saksi yang dipanggil untuk suatu kasus, dia ditanya dari ke 44 orang ini, yang mana pelakunya? sementara, menurut penglihatan saksi tsb. tidak ada satu orang pun yang dia kenali sebagai pelakunya. maka, dia menyatakan "pelakunya tidak ada di antara mereka". nah, sama kan dengan orang yang golput menyatakan "pemimpin yang pantas tidak ada di antara mereka" ^^
begitukan pak? |
 | elhas wrote on Mar 29, '09, edited on Mar 29, '09 lupakan dulu filosofi itu. kita bicara fakta aja. waktu perang uhud, nabi dan beberapa sahabat senior ingin menyambut kaum kafir quraisy di dalam madinah. tapi mayoritas sahabat terutama sahabat2 yg masih muda, menginginkan kaum muslimin menyambut di luar madinah. akhirnya, kaum muslimin pun keluar menyambut musuh di luar madinah, yakni di uhud. ini kekuatan rakyat bukan?
sesungguhnya kekuatan rakyat itu tidak bisa dimutlakkan. artinya, selama itu tidak bertentangan dengan syariat, bisa saja dalam hal2 tertentu kebenaran ada di tangan rakyat. karena bagaimanapun pemimpin juga manusia.  lupakan filosofi tapi membahas kekuatan rakyat yang merupakan bagian dari filosofi, jadi piye tho?
however, yang saya maksud pertentangan antara khilafah dengan demokrasi, adalah pada acuan dasar kebenaran no.1 . karena, dengan demokrasi, maka dasar no.1 nya adalah aspirasi rakyat bukan syariat. jadi permasalahannya ada pada "mana yang mau kita tempatkan di paling atas? syariat atau rakyat?"
dalam sirah nabawiyyah, Nabi sempat beberapa kali bermusyawarah dengan shahabat2nya, atau shahabat2nya sendiri yang berinisiatif mengajukan suatu usulan kepada Nabi yang pada sebagian di antaranya terjadi diskusi antara Nabi dan para Shahabatnya. ada usulan yang dilaksanakan dan ada yang tidak. namun, jangan lupa bahwa musyawarah dan demokrasi bukan dua hal yang identik. ada persamaan tapi juga ada pertentangan. terlebih lagi jika kita melihat konsep musyawarah yang ada pada masa Rasulullah jika dibandingkan dengan demokrasi sekarang tentu banyak bedanya. dan beda yang paling mendasar adalah soal dasar keputusan no.1 tadi.
so,,,apakah sebenarnya ustadz berfikiran bahwa sistem demokrasi yang ada ini adalah sistem yang tinggal kita gunakan dengan "cara yang berbeda", bukannya sistem yang memang harus diganti? i don't hope so ..;) |
 | elhas wrote on Mar 29, '09 kalo demokrasi runtuh sementara penguasa sudah eksis, justru berbahaya. ini bisa membuat mereka menjadi tirani. amerika dan antek2nya tak akan membiarkan indonesia yg sudah 'dipegang' orang mereka jatuh ke tangan 'orang lain'.
analisa itu kan ada dasarnya. faktanya selama ini memang demikian. umat islam tak akan dibiarkan berkuasa secara mutlak oleh musuh2nya. apalagi jika ditempuh melalui rovolusi.
kalo antum mengatakan semua umat islam sepakat menolak demokrasi dan semuanya menghendaki syariat islam tegak, ini apa bukan mimpi? al-qur`an sendiri mengatakan bahwa umat islam ini ada tiga macam; zhalimun li nafsih, muqtashid, dan saabiqun bil khairat. (lihat fathir 32) para ahli tafsir mengatakan, bahwa jumlah kelompok pertama lebih banyak dari yg kedua. dan kelompok kedua lebih banyak dari kelompok pertama.
selama pdip, golkar, dll. masih ada, umat islam tak akan bisa sepakat menolak demokrasi.  pertama, kalau soal tirani yang melibatkan asing ( Amerika ) bedanya apa dengan pengimplementasian syariat via demokrasi? emangnya mereka akan diam saja? tentu tidak kan
yang benar adalah, apapun cara yang kita tempuh, ummat Islam tidak akan dibiarkan berkuasa secara mutlak oleh musuh2nya.
kedua, kesepakatan umat Islam dalam menolak demokrasi dan menegakkan syariat Islam itu bukanlah mimpi melainkan cita-cita yang memang seharusnya dikejar. apakah dengan anda menyatakan "tidak akan umat Islam bersepakat dalam menolak demokrasi dan menegakkan syariat Islam" berarti tidak usahlah kita berusaha menolak demokrasi dan berusaha menegakkan syariat Islam, tentu saja tidak, bukan?
ketiga, jika "musuh" yang harus dihadapi adalah pdip, golkar, dsb. maka apakah golput termasuk musuh? sementara anda menyatakan mereka sebagai : "selama ada mereka maka umat tidak akan bisa sepakat menolak demokrasi", berarti kalangan "golput" tidak termasuk "musuh", bukan?
lalu, perlu diingat juga, bahwa, selama demokrasi itu ada, maka partai2 tsb. dan yang sejenisnya ( bisa jadi muncul yang baru lagi (?!) ) akan tetap memiliki eksistensi. |
 | noorahmat wrote on Mar 30, '09, edited on Mar 30, '09 btw,intermezzo dikit, pembahasan soal asumsi ini juga turunan dari asumsi yang dulunya anda bawa tsb. ^^  Sekedar intermezzo juga, Di dalam Matematika Kalkulus, Differensiasi selalu menghilangkan unsur tertentu dari initial mathematic statement yang di-diferensialkan, sehingga ketika akan dilakukan proses Integral maka harus dicari konstantanya agar ketemu dengan initial mathematic statemen yang diharapkan....:)
Wajar kalau asumsi anda (yang anda sebut sebagai turunan dari asumsi yang saya jabarkan) kehilangan beberapa parameter penting yang ada di dalam asumsi awal yang pernah saya paparkan.. parameter itu harus ditemukan agar ceruk berfikir kita bertemu....:) |
 | however, yang saya maksud pertentangan antara khilafah dengan demokrasi, adalah pada acuan dasar kebenaran no.1 . karena, dengan demokrasi, maka dasar no.1 nya adalah aspirasi rakyat bukan syariat. jadi permasalahannya ada pada "mana yang mau kita tempatkan di paling atas? syariat atau rakyat?"  Ma'af kalau saya melakukan interupsi dalam dialog anda dengan Ust Abduh. Sekedar urun rembug. ------------------------- Secara instant, argumen anda sangat saya fahami, ketika rakyat secara makro ataupun mikro tidak memahami urgensi syari'at islam dengan pemahaman yang utuh, maka aspirasi rakyat tentunya akan menjadi lebih tinggi daripada syariat. Ini tentu saja tidak boleh terjadi. Ini adalah ekses demokrasi yang harus dieliminir bahkan dilakukan prosesi annihilasi yang terus-menerus walau membutuhkan waktu yang panjang seiring semakin berkembangnya pula shielding technique yang dilakukan lawan-lawan Islam untuk melakukan demarketing terhadap seluruh kekuatan Islam.
Karenanya, kita harus terus membangun pemahaman masyarakat secara istimrar dan konstruktif, bukan dengan cara destruktif yang justru akan memicu munculnya imunitas yang salah arah terhadap Islam (e.g. munculnya Islamophobia yang disuburkan dengan pemahaman Liberal). Sekaligus tidak menghilangkan kewaspadaan dalam bergerak dan melangkah.
Ketika pemahaman masyarakat meningkat, sehingga keberpihakan masyarakat terhadap sistem Islam juga meningkat, maka aspirasi rakyat adalah syariat Islam. Dan ini sangat memungkinkan di Indonesia, karena Muslim Indonesia secara kuantitas mencapai angka 87% (walau terus menyusut dengan common ratio yang sangat kecil), yang merupakan modal besar untuk menerapkan syariat secara damai. Dengan catatan, muslim Indonesia tidak mengalami spontanity radicalism yang justru akan mengucurkan darah sesama muslim...
Wallahua'lam
|
 | lalu, perlu diingat juga, bahwa, selama demokrasi itu ada, maka partai2 tsb. dan yang sejenisnya ( bisa jadi muncul yang baru lagi (?!) ) akan tetap memiliki eksistensi.  Insya Allah bisa dieliminir atau di minimalisasi dengan regulasi yang konstitusional dan memiliki kekuatas legal formal. Sebagaimana Partai2 Nasionalis sejak era 70-an menyiapkan regulasi Asas Tunggal yang alhamdulillah berhasil di patahkan dengan perubahan konstitusi paska 1999.
Saat ini [ini bukan asumsi, namun fakta], kelompok Nasionalis Sekuler dan lawan-lawan Politik Islam sedang menyiapkan draft konstitusi terkait pembatasan penggunaan asas dan simbol agama dalam aktifitas kemasyarakatan. Bahkan di lingkup mereka sudah mulai menguat tuntutan peniadaan penggunaan simbol agama selama kampanye legislatif maupun eksekutif yang akan datang. Siapa lagi targetnya kalau bukan untuk mengeliminir kekuatan Ummat Islam.
Dalam hal ini, bilamana Partai Islam secara kuantitas menjadi minoritas di Parlemen [dan ini mungkin yang diinginkan penggiat Golput Ideologi], maka keberadaan Partai-Partai Islam, Ormas-Ormas Islam dan Wasilah Da'wah Islam akan diberangus dan dibatasi ruang geraknya dengan kekuatan Institusi Militer yang ada di tangan Legislatif dan Eksekutif. Ini pernah terjadi di Indonesia ketika akhirnya PPP, HMI dan lembaga lain merubah asas dari Islam menjadi Pancasila.
Kita sadar tentunya terkait keberadaan Pasal-Pasal Penetapan Keadaan Darurat dalam UUD Negara kita. Dalam keadaan Chaos, maka yang akan memenangkan pertarungan adalah yang memiliki kekuatan Media dan Institusi. Ini pernah terjadi dengan dibubarkannya Masyumi yang diikuti penahanan Syaikhud Da'wah Muhammad Natsir. Dan bila militer turun tangan, maka kita harus membayar mahal dengan darah ummat Islam yang tak terkira harganya. Inipun pernah terjadi ketika peristiwa Tanjung Priok di era 80-an atau FIS di Aljazair, dll.
Tentunya kita bukan keledai yang masuk lubang berkali-kali tanpa mengambil pelajaran dari ummat terdahulu. Karena kita adalah manusia harus yang mampu mengambil ibrah dari sebuah catatan sejarah, sekelam apapun sejarah tersebut tertoreh.. |
 | saya nemuin hadits ini selagi browsing...
mohon faedah dari ustadz-ustadz disini tentang hadits berikut....
----------------------
Dari Abdurrahman Bin Samurah radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Wahai Addurrahman! jangan kamu meminta jabatan, jika kamu diberi jabatan karena memintanya kamu akan diserahkan kepada jabatan tersebut (tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah, pent.) dan jika kamu diberi jabatan bukan karena meminta, kamu akan ditolong (oleh Allah dalam menjalani kepemimpinan tersebut, pent.).’” (HR. Bukhari no. 6622 dan Muslim no. 1652)
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata: “Saya dengan dua orang anak pamanku masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang dari mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam angkat kami sebagai amir (pimpinan) atas sebagian apa yang telah Allah menjadikan kamu sebagai pimpinannya!’ Dan yang kedua mengatakan ucapan yang sama, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Demi Allah sesungguhnya kami tidak akan mengangkat seseorang yang meminta jabatan ini sebagai pimpinan dan yang berambisi untuk itu.’” (HR, Bukhari no.7149 dan Muslim no. 1733) |
 | saya nemuin hadits ini selagi browsing...
mohon faedah dari ustadz-ustadz disini tentang hadits berikut....
----------------------
Dari Abdurrahman Bin Samurah radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Wahai Addurrahman! jangan kamu meminta jabatan, jika kamu diberi jabatan karena memintanya kamu akan diserahkan kepada jabatan tersebut (tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah, pent.) dan jika kamu diberi jabatan bukan karena meminta, kamu akan ditolong (oleh Allah dalam menjalani kepemimpinan tersebut, pent.).’” (HR. Bukhari no. 6622 dan Muslim no. 1652)
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata: “Saya dengan dua orang anak pamanku masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang dari mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam angkat kami sebagai amir (pimpinan) atas sebagian apa yang telah Allah menjadikan kamu sebagai pimpinannya!’ Dan yang kedua mengatakan ucapan yang sama, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Demi Allah sesungguhnya kami tidak akan mengangkat seseorang yang meminta jabatan ini sebagai pimpinan dan yang berambisi untuk itu.’” (HR, Bukhari no.7149 dan Muslim no. 1733)  Mba/ MAs Multiply001: Hadits ini tururn berkaitan apa ya?
Sekedar info: di PKS, setahu saya dicalonkan, bukan mencalonkan. Kalau dia mencalonkan, harusnya kan pake uang mereka sendiri. Tapi di PKS, setiap kader ber-infaq untuk menyokong mereka juga. |
 | elhas wrote on Mar 31, '09, edited on Mar 31, '09 @jsattaubah
di partai lain ada yang begitu, banyak malah. ga cuma di PKS saja.. kalo pake kaidah anda., (klo ga pake standar ganda) maka banyak caleg dari partai lain juga lolos dari hadits itu ;)
ngomong2 ketika seseorang (caleg) berkata, "contreng nama saya" apakah itu bukan termasuk meminta jabatan? |
 | Saya udah mampir ke blog nya... Ia tuh... keterlaluan banget kalau mereka menganggap yang ikutan pemilu=Kafir... Ga ada cara lain apa mau mengkampanyekan "Dont Vote" mereka itu Sampai-sampai status di FB saya "KEEP VOTE, STAY MOSLEM" Di anggap menantang mereka... So What gitu loh... |
 | noorahmat wrote on Mar 31, '09, edited on Mar 31, '09 ana sudah menjelajah sampai ke laman Robert Spencer and The Gank.......
|
 | elhas wrote on Apr 2, '09, edited on Apr 2, '09 @jsattaubah pandanglah lebih luas dan lebih ke dalam...
klo secara eksplisit mah, partai lain juga ga begitu banyak, cuma kalau secara implisit....
ada nomer dia, di sebelahnya ada nama dia, terus tercontreng, dan ada tulisannya :cara mencontreng...
itu bukan minta dicontreng?
yang implisit2 model gitu banyak ^^
--hm,... i've expected someone who understand more about politics for discussions,... do you? |
 | elhas wrote on Apr 2, '09 Karena kita manusia yang diberikan akal, maka kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu. Dan mengambil Ibrah dari semua itu.  hm... belajar dari kesalahan dengan menggeneralisir adalah kesalahan juga ^^...
anyway, interpretasi sejarah memang bisa macem2... tapi klo berharap jalan dakwah yang ga ada resikonya, itu adalah salah satu impian yang paling utopis yang pernah saya dengar. jalan dakwah itu bukan masalah gagal atau berhasil, tapi masalah kebenaran yang dibawa dan cara membawa yang benar. kalau kita bicara jalan dakwah yang (telah) berhasil, ada banyak parameter yang bisa dibikin2, sebagaimana kita cari resiko kegagalan dari metode dakwah manapun, it's too easy if we're talking about risks and make people frightened ^^. sekali lagi saya tegaskan, kalau takut gagal, mending ga usah mulai ^^ karena resiko kegagalan itu pasti ada...
so, why do we talking about such risks?
=========
mudah2an kita semua ingat, mengenai hal yang bisa mengancam aktivis intrasistem dengan keterlibatan mereka di dalam sistem tsb, yaitu asimilasi dan sinkretisme sistem ke dalam diri mereka.so, ada sebuah resiko di mana kebenaran atau pola pikir yang mereka bawa akan tercemari sistem tersebut. entah itu karena tuntutan sistem atau faktor lain. akhirnya, beberapa aktivis mulai berjatuhan, bukan ditangkapi atau dibunuh, tapi pola pikir mereka tercemari, akibat saking dekatnya dengan sistem. na'udzubillahi min dzaalik.
seharusnya ketika seorang aktivis masuk ke dalam sistem demokrasi, dia memberikan warna baru. sekalipun dia belum mampu mewarnai sistem, namun, at least jangan sampai warnanya itu hilang, jangan sampai dengungan ukhuwah Islamiyah diganti dengan ukhuwah wathoniyah, jangan sampai melakukan metode kampanye yang sama kelirunya dengan kalangan non aktivis dan malah menjadikan frase "toh ini tidak separah 'mereka' " sebagai pembenaran.
tapi kita telah melihat kejatuhan2 seperti ini mulai marak, dan mudah2an tidak terus berlanjut.
please don't ask me to mention an example unless you really think that it were never happened ( i wonder how could someone think like that ^^ ), coz nanti pembahasannya melebar dan malahan jadi ghibah -_- -- tadi saya hampir ngetik examplenya, cuma karna susah bawanya secara implisit, tar malah jadi gunjang gunjing ga jelas di sini--
---
still wanna talk about risky or not?
--
semoga para aktivis dakwah yang berjuang di parlemen bisa tetep konsisten, no matter you're winning or lose, coz a result is worth far less than a process... |
 | elhas wrote on Apr 2, '09 Dalam hal ini, bilamana Partai Islam secara kuantitas menjadi minoritas di Parlemen [dan ini mungkin yang diinginkan penggiat Golput Ideologi], maka keberadaan Partai-Partai Islam, Ormas-Ormas Islam dan Wasilah Da'wah Islam akan diberangus dan dibatasi ruang geraknya dengan kekuatan Institusi Militer yang ada di tangan Legislatif dan Eksekutif. Ini pernah terjadi di Indonesia ketika akhirnya PPP, HMI dan lembaga lain merubah asas dari Islam menjadi Pancasila.  ehm... ehm.. kenapa balik lagi ke yang tadi, bermain andai dan asumsi, dengan fakta yang kasuistik dan memiliki banyak irrelevansi, should i respond this argument? i don't think so... |
 | elhas wrote on Apr 2, '09, edited on Apr 2, '09 Secara instant, argumen anda sangat saya fahami, ketika rakyat secara makro ataupun mikro tidak memahami urgensi syari'at islam dengan pemahaman yang utuh, maka aspirasi rakyat tentunya akan menjadi lebih tinggi daripada syariat. Ini tentu saja tidak boleh terjadi. Ini adalah ekses demokrasi yang harus dieliminir bahkan dilakukan prosesi annihilasi yang terus-menerus walau membutuhkan waktu yang panjang seiring semakin berkembangnya pula shielding technique yang dilakukan lawan-lawan Islam untuk melakukan demarketing terhadap seluruh kekuatan Islam.Karenanya, kita harus terus membangun pemahaman masyarakat secara istimrar dan konstruktif, bukan dengan cara destruktif yang justru akan memicu munculnya imunitas yang salah arah terhadap Islam (e.g. munculnya Islamophobia yang disuburkan dengan pemahaman Liberal). Sekaligus tidak menghilangkan kewaspadaan dalam bergerak dan melangkah.  ya, kita harus membangun pemahaman masyarakat secara konstruktif,
nah,untuk melaksanakan "pembangunan" tsb. apakah hanya dapat dilaksanakan oleh mereka yang "memilih"? i don't think so... ke"golput"an seseorang irrelevan jika dilawankan dengan frase ini...
i hope u agree with that ;) |
 | elhas wrote on Apr 2, '09, edited on Apr 2, '09 Mengkafirkan secara jelas sampai bilang "Kafir kamu !" sih blm ada ustadz, tapi kalo yg tersamar lewat slogan ya banyak....Na'udzubillah....
Mnurut antum sendiri gimana dgn slogan "Stay Muslim, Don't Vote" ? bukankah kebalikan dari berarti bukan Muslim ?  sikap ghuluw memang sedang marak...
tapi however the sentence "stay muslim don't vote" looks as bad as "stay muslim, keep vote"
just a matter of who goes first ^^ |
 | @elhas: beda dong... 'contrneglah nama saya' dengan hanya gajarin agar contreng. Toh manusia yg jujur dalam memilih akan pilih wakilnya yg layak dan ga asal contreng. |
 | beberapa postingan diatas lagi hangat2nya membahas masalah "ikut milih = kafir", klu blh tahu di website apa ya..?
saya tetap sependapat dengan Para Ulama Ahlus Sunnah yang tetap melarang pemilu dalam demokrasi (kecuali jika memang benar2 darurat, jangan sengaja mendaruratkan lho),
tapi jika ada yg bilang ikut pemilu = kafir, itu sungguh berfatwa tanpa ilmu... |
 | ustadz jsattaubah, kalimat "contrenglah nama saya " itu berbeda ya dengan "pilih saya" ya..?
baru tahu saya...
tapi bukankah, jika hanya berniat ngajarin, tidak harus pakai kata "saya" dan pakai "nomor urut saya"...
mohoon petunjuk ustadz... jazakallah |
 | mrnoxious wrote on Apr 2, '09, edited on Apr 2, '09 however the sentence "stay muslim don't vote" looks as bad as "stay muslim, keep vote"  The second sentences you've mention "stay muslim, keep vote" it's a reaction from the first sentence. Ngga ada asap kl ngga ada api. You might wanna take a look on my writing here : http://mrnoxious.multiply.com/journal/item/154/And you'll see where the sentences come from... |
 | tapi jika ada yg bilang ikut pemilu = kafir, itu sungguh berfatwa tanpa ilmu...  |
 | elhas wrote on Apr 3, '09 owh ya, saya tahu sekali yang mana asap dan yang mana api...
tapi tetep aja... dua2nya sama2 !#!@$!$!@$ cuma masalah siapa yang !#!@$!$!@$ duluan hihihihi...
satu hal yang sangat penting ketika kita melihat suatu fenomena dan berfikir "why do they so dumb?" adalah "don't become that dumb too" :) |
 | elhas wrote on Apr 3, '09, edited on Apr 3, '09 @elhas: beda dong... 'contrneglah nama saya' dengan hanya gajarin agar contreng. Toh manusia yg jujur dalam memilih akan pilih wakilnya yg layak dan ga asal contreng.  as i said, i expected a discussion about politics with someone who understands it slightly well, however, FYI, you could have found more justifications anywhere, but for a non-laughable argument, they would be never enough... :)
your last sentence shows that you're trying to deflect the discussion, but it doesn't work for me, ^^ |
 | noorahmat wrote on Apr 4, '09, edited on Apr 4, '09 semoga para aktivis dakwah yang berjuang di parlemen bisa tetep konsisten, no matter you're winning or lose, coz a result is worth far less than a process...  Click.............you got the idea.....saling mendo'akan saja...:)
Masing-masing memiliki hujjah yang sesungguhnya sama dalam memandang Demokrasi di Indonesia. Yang berbeda adalah cara yang dipilih untuk menumbangkannya.
Tujuan keduanya juga sama yaitu ingin menegakkan Syariah dan Khilafah. Masing-masing jalan memiliki resiko yang tidak ringan. Namun yang perlu diperhatikan bahwa keduanya juga merupakan keputusan kolektif bukan individual. Sehingga, mari kita saling berkomitmen dan menghormati dengan yang sudah kita pilih berdasarkan keyakinan kita untuk kita masing-masing jalani... Anda dengan Ke-Golput-an anda, dan kami dengan ikhtiar kami.
Dalam pandangan kita masing-masing, pernyataan "Mengatasi Masalah dengan Masalah (Mengharamkan Demokrasi Demi Madharat yang Lebih Besar)". saling kontradiktif, karena sudut pandang kita memang sejak awal berbeda dalam melihat permasalahan.
Sedangkan menurut sebagian Golputers, pernyataan yang ingin disampaikan mungkin "Mengatasi Masalah dengan Masalah (Memanfaatkan Demokrasi Demi Madharat yang Lebih Besar)".
Waktu akan menjawab bahwa pada hakikatnya kita tidaklah berbeda. Sementara ini mungkin tampak jelas perbedaannya, karena memang terlihat ada yang berkepentingan dibalik semua perdebatan ini....
Kita semua sedang berproses untuk menjadi dewasa dan untuk menjadi muslim yang baik dalam mengamalkan Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.......
Wassalam. |
 | elhas wrote on Apr 6, '09, edited on Apr 6, '09 @mrnoxious
ketika anda memandang kalimat "stay muslim, don't vote" sebagai kalimat yang mengarahkan pada keharusan untuk tidak memilih agar tetap menjadi muslim, maka, dengan kaidah yang sama, kalimat "stay muslim, "keep vote" juga mengarahkan pada keharusan untuk tetap memilih agar tetap menjadi muslim :)
kalimat saya : "vote or not, you can still be a muslim :)"
*tapi ternyata klo dipikir2,.. dua2nya (bisa aja) ga berarti demikian,... hihihihihihihi |
Comment deleted at the request of the author.
 | Sebelum lebih lanjut, saya ingin bertanya. Apakah di dalam konsep Islam ( non Syi'i) telah ditetapkan teknis detail dari pemilihan kepemimpinan suatu negara? Mungkin sahabat sekalian akan menjawab "syuro" sebagai konsepnya. Namun pengaplikasian syuro sendiri itu bagaimana? Bila kita menengok ke generasi Nabi shallallahu'alaihi wasallam dan Khulafa'ur Rosyidin pun secara spesifikasi terjadi cara yang berfariasi (tdk sama). Nabi tdk menunjuk penggantinya sehingga Abu Bakar terpilih melalui kesepakatan Muhajirin dan Anshor. Umar menjadi pemimpin atas penunjukan Abu Bakar. Sedangkan yang dua berikutnya melalui rembugan pula. Namun dari keempatnya ada irisan yang sama, yakni kesepakatan rakyat. Karena itu, tidak bisa sertamerta kita menegasikan demokrasi dalam sistim pemerintahan apa pun di dunia ini ( bila kita melihat irisan tersebut ). Ada lagi contoh lain. Imam Husein mengapa pergi melawan Yazid bin Muawiyah? Sejauh yg sy ketahui karena kesepakatan rakyat Irak yang berpihak kepada beliau, dan bukan kepada Yazid. Sehingga dalam kasus ini Imam Husein berada pada pihak yang lebih absah dalam memegang pemerintahan ketimbang Yazid bin Muawiyah. Dari dua contoh di atas tak dapat dipungkiri lagi bahwa demokrasi senafas dengan jiwa kaum Muslimin pada umumnya. Hanya saja konsep teknis pelaksanaan demokrasi itu sendiri tidak bisa sekali untuk selamanya. Apakah melalui pemilu langsung, ataukah melalui perwakilan itu kondisional. Yang penting, dalam pengambilan keputusan, suara rakyat tidak bisa dieliminir sama sekali. Silakan dikoreksi tulisan saya ini. |
 | elhas wrote on Apr 7, '09, edited on Apr 7, '09 @taufan
balik ke bagian dari filosofi dasar demokrasi yang menabrak syariat, yaitu peletakkan dasar kebenaran yang utama pada aspirasi rakyat atau perwakilannya. bukan pada syariat. ada tuh di atas,... tinggal dibaca ;) |
 | elhas wrote on Apr 7, '09 @noorahmat yups, bisa terlihat kita sepakat dalam beberapa hal dan tidak sepakat dalam beberapa hal. tapi semoga itu tidak merusak perjuangan masing-masing :)
eh, tapi (salah) satu hal yang saya sepakati dari artikel ustadz abduh adalah tidak seharusnya wacana seputar masalah ikhtilafiyah dengan sensitivitas tinggi dibahas dalam khutbah jum'at. jadi khutbah jum'at itu seharusnya bukan tempat jualan golput atau jualan demokrasi ^^ |
 | Nah biar tambah seru sy tambah @elhas:Hmm,mungkin yg dimaksud elhas adalah demokrasi yg telah teraplikasikan di hari ini.Kalau sy mengikuti logika elhas,sy sangat sepakat bahwa demokrasi semacam itu berbeda dgn nafas Islam. Hanya saja,seperti yg sy sudah tuliskan,penjabaran pelibatan rakyat (kalau tidak mau dikatakan demokrasi) berada pada tataran masholih mursalah dan tidak taken for granted.Jadi bisa digugat dan menggugat lah,gampangnya (sewaktu2 bisa dipertanyakan lagi). Kecuali saudara-saudara kita yg dari Imamiyah 12 yg sejauh pengetahuan sy memiliki teknik yg lumayan terperinci tentang ini. Benar bahwa dalam pengambilan keputusan publik,yg salah satunya pengangkatan Imam, seluruh rakyat tdk wajib dilibatkan. Namun tidak wajib tdk menunjukkan pada ketidakbolehannya.Yg sy ingin tekankan bukan pada pelibatan masyarakat secara keseluruhannya,tetapi pengangkatan kepala negara atau kepala yg lainnya tetap harus dgn keridhoan sebagian besar rakyat.Sy ambil contoh lg ttg perlawanan Ibnu Zubair terhadap penunjukan Yazid yg kontroversi karena ada unsur pemaksaan pada rakyat.Padahal sebagian sahabat,sejauh yg sy tau,jg ada yg tidak melakukan perlawanan.Padahal sahabat boleh dikatakan layak utk menjadi ahli hali wal aqdi.Namun ketika mayoritas rakyat dipaksa mengakui kepemimpinan seseorang,maka bay'atnya jg bisa diganggu gugat. Berbeda kasusnya dgn Khawarij yg minoritas dan melawan kekhalifahan yg secara mayoritas (bkn ijma') diakui rakyat.Dalam hal tsb tentu tindakan Ahli Nahrawan (khawarij) ini tdk bisa dibenarkan oleh kacamata sejarah. |
 | Sebenarnya dibolak-balik Indonesia tetap saja umat Islam yg menang.Kalo sering terjebak pingpong ya ndak akan ada habisnya. |
 | Bisa di cek di Faceebook nya juga Mas... Saya  Juga  Kita  Aja biar Waktu Pilpres nanti dapat Presiden yang mewakili Paryai Islam... |
 | Aduh,Mas Noorahmat.Mbok ya jangan su'udzon seperti itu. Tidak berlabel Islam belum tentu tersindir oleh ayat tersebut lho. Awal ujian terhadap umat ini juga gara2 prasangka seperti ini. Sayyidina Utsman dan Imam 'Ali yg jadi korbannya. Padahal mereka berdua kurang apa. Ada sebuah atsar yg isinya kira2 begini.Tp tolong dikoreksi bila ada yg salah dan tdk valid."Ketika Imam Ali (Sebagai Kholifah)ditanya oleh seorang rakyatnya:"Mengapa di jamanmu ini banyak terjadi fitnah (ujian) sedangkan jaman Abu Bakar dan Umar semua aman2 saja?" Imam menjawab:"Di jaman pemerintahan mereka berdua semua rakyatnya seperti aku. Tapi di jaman pemerintahanku rakyatnya seperti kamu." |
 | Statement itu berlaku umum. Tidak mengkotak-kotak berdasarkan Label. |
 | Bagus kalo begitu.Sekarang tinggal meneruskan perjalanan dan saling mengoreksi bila ada yg incorect. Kalo pada guyub kan lebih sejuk dan ni'mat dalam berda'wahnya. |
 | Terima KAsih atas pencerahannya Ustadz saya jadi nyesel karena saya adalah salah satu orang Yg GOLPUT, Next ga lagi Dech... |
 | mazalo wrote on May 13, '09, edited on May 15, '09 Wah, gak sengaja buka forum ini dan ternyata mas yung udah jawab, detail, lengkap dengan dalil dan hujjah yg baik.. terimakasih mas atas jawabannya. Saya nggak nyangka, malah jawabannya jadi panjang dan banyak perdebatan juga.
Saya mau klarifikasi : - Saya bukan anggota HTI - Saya bukan anggota pengajian wahabi/salafy, dll, bahkan tempo hari kan saya malah pengen ikut ngaji sama mas yung. - Semua pendapat itu murni keyakinan saya pribadi - Saya kalau suruh berdebat pakai dalil2 jelas nggak ada setetesnya jika dibandingkan mas yung yg udah studi di kairo. begitu juga kalau mas yung berdebat dgn saya mengenai teknologi GSM/CDMA :D (bercanda mas...) - Tidak ada maksud saya utk meremehkan keimanan khulafaur rasyidin yg akhirnya tergantikan oleh bani-bani. itu semua terjadi karena memang kehendak Allah Subhanahu Wata'ala berkaitan dgn fitnah kaum munafik (yahudi). Jadi, hancurnya khilafah menurut saya karena adanya adu domba kaum munafik, dan siapa sih yg dikompor2in untuk mengenyahkan khilafah?? kaum muslim sendiri bukan?? kaum muslim yg mana?? apa yg dikompori itu khulafaur rasyidin?? pastinya bukan... Tidak semuanya kaum muslim beriman seperti khulafaur rasyidin. pada saat isra' mi'raj-pun banyak kok yg murtad. nah yg murtad ini apa keimanannya sama dengan khulafaur rasyidin?? Jadi, jangan men-judge juga dong kalau semua muslim pada jaman itu beriman semua, wong jelas2 ada golongan munafik kok di jaman itu, bahkan pada saat Rasulullah hidup kaum munafik ada kok. mereka mengaku muslim juga loh............ - Kalau memang pemerintah dianggap pemimpin (imam), sami'na wa atho'na dong, jangan pemerintah lebaran hari selasa tapi sebagian lebarannya hari senin. Lah jadi imamnya pemerintah apa muhammadiyah (?) padahal udah milih loh, dengan mantap hati sebagai imam. lihat tuh pengajian muhammadiyah bilang kalau pemilu itu memilih imam. - Saya golput bukan mengikuti Gusdur.. hehehe... Tapi saya memilih untuk tidak memilih tuhan-tuhan lain saja (berat banget.... :D).. itu murni keyakinan saya pribadi loh mas - Bagaiman sikap SBY terhadap ahmadiyah?? PKS pilih dia loh...... calon imam loh dia - PKS yg katanya berjuang menegakkan syari'at dan amanah, mana buktinya? bahkan merekapun sekarang ini hanya sibuk mengurus bagaimana cara utk menunggangi kekuasaan yg katanya itu satu2nya cara utk menegakkan syari'at. Kenapa tergesa-gesa sekali sampai harus merelakan berkoalisi dgn nasionalis,dll.. Mana istiqomahnya?? Katanya partai dakwah, dakwah apa?? taqiyah, bermuka dua, kemarin gak dukung golkar, trus mencla-mencle lagi, dll hahahaha... umat konstituen dan kader yg mati-matian menjaga akhlak dipermainkan oleh Anis Matta dkk.. - Siapa sih pemimpin umat islam indonesia (?) Presiden? MUI? PKS? PKB? PAN? hehehe... Jadi pemilu kemarin itu milih pemimpin umat islam indonesia atau pemimpin kepentingan partai2 indonesia? PKS mengklaim mewakili umat islam, umat islam yg mana? PAN mengklaim mewakili umat islam, umat islam yang mana? yang memilih PAN tidak merasa terwkili oleh PKS kok, apalagi Nahdliyin jelas2 merasa nggak terwakili sama sekali oleh PKS yg mereka tuduhkan "wahabi". Masing2 partai hanya mewakili umat partainya saja. Masih nggak terima juga? kalau emang PKS merasa mewakili umat muslim indonesia, kenapa dakwahnya nggak nyampe ke Nahdliyin ya? sengaja menghindar atau emang nggak diterima? - Silahkan untuk membela demokrasi dan produk2nya (partai), jika itu memang dianggap sebagai satu-satunya "jalan yg lurus". Dan jangan di-judge dosa juga orang2 yg golput, karena mereka istiqomah bahwa itu adalah "jalan yg lurus" yang tidak menggantungkan dan mengharapkan hidupnya pada tuhan parlemen. Sama-sama menghargai pilihan masing-masing.. - Sayangnya, memang begitu kenyataanya, ketika PKS memilih cagub penjudi, begitu mati-matian kader PKS membela. Astaghfirullah...... - Demokratis itu beda dengan demokrasi.. demokratis lebih kepada sikap dalam pengambilan keputusan, sedang demokrasi itu sebuah sistem tata negara/pemerintahan dgn trias politikanya. Sistem ini memang diciptakan untuk memisahkan campur tangan agama dalam suatu pemerintahan. So, nggak mungkin lah agama berada di atas demokrasi, karena memang sistem itu diciptakan untuk memisahkan peranan agama dalam tata negara dan pemerintahan. Apa yg selalu menjadi argumen tentang contoh di masa lalu itu adalah contoh sikap demokratis, bukan demokrasi. Apa iya waktu Rasulullah memimpin dan jaman khulafaur rasyidin mencontohkan sistem parlemen yang memisahkan campur tangan agama dalam mengatur negara dan rakyatnya (?) mungkin bisa dibedakan antara demokratis dan demokrasi.. sama juga antara pluralitas dan pluralisme sangat beda jauh... Sangat berlebihan kalau mas yung sampai menganalogikan dengan penghinaan muawiyah bin abi sufyan dan orang2 mukmin terdahulu. Sangat berlebihan dan hiperbolik.. Sama juga dengan yg sering mengkafir-kafirkan sesama muslim.. Itu hanya persepsi yg berlebihan aja.. Bagi saya sih menyikapinya seperti orang arab aja yang gaya ngomongnya kadang hiperbolik, padahal maksudnya nggak begitu. hopefully. - Bukan pemilu-nya yg haram, pemilihan pemimpin itu fitrah dalam kehidupan sosial manusia, itu sikap demokratis. Tapi pemilihan itu ditujukan untuk apa yg menyebabkan fitrahnya jadi hancur. Jika pemilihan untuk memilih orang menjadi pemimpin dalam sistem demokrasi yang jelas2 buruk yg memisahkan agama dalam tata negara, jelas merusak fitrah itu sendiri. - Saran saya buat mas yung, jangan kedepankan emosi dan persepsi yg berlebihan dulu dalam meng-counter pernyataan dan pertanyaan dari orang yg berbeda pendapat. Jujur saja, saya agak kaget mas yung langsung mendaratkan tuduhan "antum dkk","demo", dan persepsi lain seolah-olah saya mengikuti golongan tertentu dan berasal dari golongan tertentu. Mungkin ini gaya mas yung berbicara di forum maya aja, tapi tidak begitu sebenarnya. Bukannya mas yung pernah menulis buku tentang menyikapi perbedaan pendapat para salaf (CMIIW)?? - Kalau mas yung berpersepsi saya melecehkan keimanan para shahabat rasul, sayapun bisa berpersepsi mas yung melecehkan Rasulullah. Pada saat Rasulullah ditawari kekuasaan di Mekkah oleh kaum kafir beliau menolak. Padahal itu yang saat ini digembar-gemborkan bahwa satu-satunya jalan menegakkan syariat adalah melalui kekuasaan. Padahal bisa saja Rasulullah menerima kekuasaan itu dan berpura-pura mengikuti aturan kaum kafir sembari berdakwah diam2 melalui sahabat2nya dan setelah kuat baru membasmi kaum kafir. Keteguhan Rasulullah ini mengakibatkan keluarga para sahabat menderita juga kok, bahkan banyak yg disiksa oleh kaum kafir. Apakah Rasulullah berdosa? Jika sekarang Hidayat nurwahid, dkk memilih sebaliknya, kekuasaan dulu walaupun sudah jelas dalam sistem kekuasaan demokrasi agama dan huklum2nya tidak boleh digunakan, meskipun pemimpin tersebut tetap boleh melaksanakan sholat, puasa, zakat, haji, dll.. Sama saja kan dengan keadaan Rasulullah waktu itu? Boleh menjalankan keyakinannya, tapi tak boleh menggunakannya dalam kekuasaan. NAIF..............
|
 | Demokratis itu beda dengan demokrasi.. demokratis lebih kepada sikap dalam pengambilan keputusan, sedang demokrasi itu sebuah sistem tata negara/pemerintahan dgn trias politikanya. Sistem ini memang diciptakan untuk memisahkan campur tangan agama dalam suatu pemerintahan. So, nggak mungkin lah agama berada di atas demokrasi, karena memang sistem itu diciptakan untuk memisahkan peranan agama dalam tata negara dan pemerintahan. Apa yg selalu menjadi argumen tentang contoh di masa lalu itu adalah contoh sikap demokratis, bukan demokrasi. Apa iya waktu Rasulullah memimpin dan jaman khulafaur rasyidin ada sistem parlemen yang memisahkan campur tangan agama dalam mengatur negara (?) mungkin bisa dibedakan antara demokratis dan demokrasi.. sama juga antara pluralitas dan pluralisme sangat beda jauh... Sangat berlebihan kalau mas yung sampai menganalogikan dengan penghinaan muawiyah bin abi sufyan dan orang2 mukmin terdahulu. Sangat berlebihan dan hiperbolik.. |
Comment deleted at the request of the author.
 | Permasalahannya bukan pada cara memilih dalam Islam atau bukan, tapi benar sebagaimana disampaikan oleh Ikhwan sekalian (yang satu ide dengan saya), adalah masalah hakimiyyah Allah dan terbentuknya thaghut2 baru... Definisi ibadah itu luas, maka banyak orang bisa syirik, bahkan tanpa sadar, makannya Syaikh Al Banna mencantumkan salah satu doa tersebut (agar terhindar dari syirik tanpa sadar) da;lam Al Ma'tsurot... Jadi, klo menurut saya, dengan ikut serta dalam Parlemen justru memilih kemadharatan yang paling besar yakni menyekutukan Allah... Karena di sana ada ketaatan, kepatuhan, ketundukkan kepada selain Allah, yakni sistem yang berlaku. Contoh sederhananya masalah sumpah presiden, wapres, aleg dan lainnya...
Sumpah itu tidak berlaku hanya dengan niat yang bersumpah, tapi dinilai berdasarkan niat yang meminta sumpah, adapun jika dzahir dan batinnya beda, maka itu ursan Allah... tapi hukum dzhahir di dunia mengikuti orang yang meminta sumpah...
Wallahu a'lam... Menurut saya ,masuk parlemen atau tidak adalah urusan aqidah..... Tapi, tafadhal kita jalan masing2, dan klo kami tidak boleh berteriak untuk menyerukan golput, maka jangan juga berteriak untuk "menggembosi" mujahidin. Karena walaubagaimanapun, titik akhir perjuangan dakwah adalah Qital... Ana dapat materi ini dari ustadz2 PKS lho... Katanya : pada akhirnya perjuangan kita akan diakhiri oleh Qital... Maka, yang seharusnya sekarang kita lakukan adalah i'dad, dengan tarbiyah ruhiyyah, fikriyyah, dan jasadiyyah... Dan ana sepakat sama beliau... Karena ana juga menghormati beliau sebagai Murabbi ana... |
 | Assalamualaikum!
DEMOKRASI – AGAMA YANG SYIRIK DAN KUFUR
Umat Islam kita di Malaysia kini telah disesatkan dengan kesesatan yang amat jauh oleh Ahlil Kitab sehingga kita tidak menyedari bahawa :
1. Para pemimpin kita yang terdiri daripada ahli-ahli PARLIMEN dan DUN adalah TUHAN-TUHAN MANUSIA yang berkuasa dan berdaulat ke atas seluruh umat manusia serta mereka itu adalah TUHAN-TUHAN MANUSIA yang DISEMBAH oleh manusia;
2. Seluruh umat Islam kita yang menjadi rakyat yang diperintah ini adalah orang-orang yang MELANTIK para pemimpin kita ini sebagai TUHAN-TUHAN yang berkuasa dan berdaulat ke atas kita serta kitalah yang menjadi para PENYEMBAH yang menyembah Tuhan-tuhan manusia ini;
3. Demokrasi ini adalah satu agama ciptaan manusia yang syirik dan kufur kerana ianya adalah terdiri daripada konsep-konsep Uluhiyah dan Rububiyah Manusia yang menafi, menolak, mengingkari dan menentang konsep-konsep Uluhiyah dan Rububiyah Allah yang terkandung di dalam kalimah Laailaahaillallah.
Demokrasi adalah agama ciptaan manusia yang syirik dan kufur kerana ianya adalah agama yang didasarkan kepada AQIDAH yang syirik dan kufur yang terdiri daripada ULUHIYAH dan RUBUBIYAH MANUSIA yang berkontradiksi secara total dengan Aqidah Islam, iaitu Uluhiyah dan Rububiyah Allah dan Laailaahaailallah. Faktor yang menjadi asas kepada AQIDAH DEMOKRASI ialah undang-undang demokrasi yang diciptakan oleh manusia dan yang ditaati oleh manusia, manakala asas kepada AQIDAH ISLAM ialah undang-undang yang diciptakan oleh Allah dan yang ditaati oleh manusia.
Negara Malaysia kita ini adalah negara yang syirik dan kufur kerana ia mengamal, mengimani dan menganuti agama demokrasi yang syirik dan kufur .
AGAMA ISLAM :
1. AQIDAH ISLAM adalah ciptaan Allah dan daripada Allah yang terdiri daripada RUBUBIYAH DAN ULUHIYAH ALLAH :
i. Rububiyah Allah bererti bahawa Allah itu adalah TUHAN bagi manusia kerana HANYA Dia sahaja yang mempunyai HAK dan KUASA ke atas Kedaulatan, Otoriti dan Undang-undang dan Dia juga mempunyai HAK untuk MENGABDIKAN MANUSIA KEPADA KUASA -NYA;
ii. Uluhiyah Allah bererti Allah itu adalah TUHAN yang tunggal bagi manusia kerana segala kedaulatan, otoriti dan undang-undang yang dimiliki, dibuat dan diluluskan oleh Allah itu adalah DITAATI dan DIPATUHI oleh seluruh manusia yang diperintah;
2. SYARIAT ISLAM adalah terdiri daripada segala PERATURAN dan UNDANG-UNDANG yang dimiliki, dibuat dan diluluskan oleh Allah;
3. AKHLAK ISLAM adalah daripada Allah yang mengikut neraca-neraca dan nilai-nilai daripada Allah yang dikuatkuasakan oleh peraturan dan undang-undang Allah.
AGAMA DEMOKRASI :
Demokrasi adalah agama yang syirik dan kufur kerana ianya adalah didasarkan kepada Aqidah, Syariat dan Akhlak yang syirik dan kufur :
1. AQIDAH DEMOKRASI adalah ciptaan manusia yang selain daripada Allah yang terdiri daripada RUBUBIYAH DAN ULUHIYAH MANUSIA :
i. Rububiyah Manusia bererti para pemerintah itu adalah TUHAN-TUHAN bagi manusia kerana mereka mempunyai HAK dan KUASA ke atas Kedaulatan, Otoriti dan Undang-undang dan mereka mempunyai HAK untuk MENGABDIKAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA;
ii. Uluhiyah Manusia bererti para pemerintah itu adalah TUHAN-TUHAN bagi manusia kerana segala kedaulatan, otoriti dan undang-undang yang dibuat dan diluluskan oleh para pemerintah itu adalah DITAATI dan DIPATUHI oleh golongan manusia yang diperintah;
2. SYARIAT DEMOKRASI yang terdiri daripada segala PERATURAN dan UNDANG-UNDANG yang dibuat dan diluluskan oleh parlimen (fasal 44 Perlembagaan Negara) adalah ciptaan manusia yang selain daripada Allah;
3. AKHLAK DEMOKRASI yang wujud dan berkembang di bawah kekuasaan dan undang-undang manusia adalah mengikut neraca-neraca dan nilai-nilai manusia yang dikuatkuasakan oleh peraturan dan undang-undang manusia.
Perbandingan di antara agama Islam dengan agama demokrasi memberi gambaran yang jelas bahawa demokrasi ini adalah satu agama, iaitu agama yang syirik dan kufur. Demokrasi yang didasarkan kepada Rububiyah dan Uluhiyah Manusia adalah agama manusia yang syirik dan kufur.
Umat Islam kita melantik manusia sebagai Tuhan-tuhan Manusia dan selepas itu mereka menyembah Tuhan-tuhan Manusia ini – kesemuanya ini mengeluarkan mereka daripada agama Allah! Ini adalah sikap dan perbuatan yang merosakkan Laailaahaillallah dan yang mengeluarkan mereka daripada agama Allah, kerana :
1. Tidak ada IJTIHAD dan MASLAHAH dalam masalah AQIDAH;
2. Falsafah “matlamat menghalalkan cara” tidak dapat diterima oleh Islam kerana ianya adalah falsafah Barat dan cara pemikiran Barat yang syirik dan kufur yang dikembangkan oleh Machiavelli;
3. Matlamat perjuangan adalah daripada Laailaahaillallah dan cara perjuangan adalah juga daripada Laailaahaillallah – matlamat perjuangan dan cara perjuangan adalah daripada sumber yang satu dan sama, iaitu daripada Laailaahaillallah, sedangkan cara perjuangan melaui proses dan jalan demokrasi adalah berkontradiksi dengan Laailaahaillallah.
Tiada pilihan yang lain yang lebih bijak dan baik bagi seluruh umat Islam kita melainkan mereka hendaklah segera dan tegas mengeluarkan diri mereka daripada berjuang dan beroperasi di bawah sistem politik demokrasi ini dan mereka hendaklah hanya berjuang melalui Metod Islam daripada Allah dan Rasul-Nya sahaja yang sudah tersedia wujud di dalam al-Quran, Sunnah dan Sirah.
Perhatikalah ayat al-Quran seperti di atas ini :
Firman Allah : Fatir 10 Sesiapa yang mahukan kemuliaan (maka hendaklah ia berusaha mencarinya dengan jalan mematuhi perintah Allah), kerana bagi Allah jualah segala kemuliaan. Kepada Allahlah naiknya segala madah yang baik (yang menegaskan iman dan tauhid untuk dimasukkan ke dalam kira-kira balasan), dan amal yang soleh pula diangkat-Nya naik ( sebagai amal yang makbul – yang memberi kemuliaan kepada yang melakukannya). dan sebaliknya; orang-orang yang merancangkan kejahatan (untuk mendapat kemuliaan), adalah bagi mereka azab seksa yang berat; dan rancangan jahat mereka (kalau berkesanpun) akan rosak binasa.
Ayat di atas melarang kita daripada mengamalkan agama demokrasi yang syirik dan kufur walaupun untuk mencapai matlamat yang suci dan murni kerana Allah. Allah memberi peringatan bahawa sesiapa yang mengamalkan jalan yang syirik dan kufur seperti amalan sistem politik demokrasi adalah orang-orang yang merancang untuk melakukan kejahatan terhadap Allah yang akan dihumban ke dalam neraka di akhirat nanti. Umat Islam kita yang wujud dan menjalani kehidupan di bawah sistem politik demokrasi yang syirik dan kufur ini akan hanya dapat memelihara dan mempertahankan kesempurnaan pegangan dan amalan kalimah Laailaahaillallah dengan cara mengamalkan segala sikap, tindakan dan amalan seperti mana yang dikenalpastikan di sini :
1. Memahami, menyedari dan meyakini kesyirikan dan kekufuran demokrasi;
2. Tidak mengambil bahagian dan mengamalkan sistem politik demokrasi;
3. Memisah, memencil dan mengasingkan diri daripada demokrasi, kerajaan demokrasi dan segala proses politik demokrasi;
4. Tidak meredhai dan menyetujui demokrasi dan kerajaan demokrasi serta membencinya;
5. Tidak menghalal dan membolehkan amalan demokrasi dan sistem politik demokrasi;
6. Mengisytiharkan kekufuran kerajaan demokrasi dan perintah Allah untuk menghancurkannya untuk kemudiannya digantikan dengan sebuah Negara Islam;
7. Menafi, menolak, mengingkari dan menentang dengan terbuka, aktif dan total terhadap demokrasi dan kerajaan demokrasi ;
8. Mengamalkan sikap tanpa kompromi dan berkonfrantasi dengan kerajaan demokrasi sehingga ia mengalami kehancuran;
9. Tidak bersikap “neutral” dan berkecuali terhadap kerajaan demokrasi;
10. Membentuk dan menyertai satu Pergerakan Islam untuk menentang dan menjatuhkan kerajaan demokrasi dan untuk memperjuangkan Islam melalui Metod Islam supaya ia muncul sebagai satu agama yang berkuasa dan memerintah dengan menguatkuasakan segala undang-undang dan sistem hidup daripada Allah.
Inilah jalan Laailaahaillallah dan inilah sahaja jalan dan cara bagi seluruh umat Islam kita untuk menyelamatkan diri mereka daripada terlibat secara langsung dengan kesyirikan dan kekufuran.
Metod Islam untuk mewujudkan kerajaan Islam ialah Jihad, Perang dan Revolusi, bukan melalui “NUSSRAH” amalan Hizbu at-Tahrir dan bukan melalui jalan demokrasi dan proses demokrasi kerana itu adalah jalan yang syirik dan kufur.
Firman Allah : al-Hajj 40 Sekiranya Allah tidak menjatuhkan segolongan manusia dengan segolongan yang lain, nescaya runtuhlah tempat-tempat pertapaan serta gereja-gereja, dan sinagog-sinagog dan juga masjid-masjid yang sentiasa disebut nama Allah dengan banyak padanya.
Allah memerintahkan kita supaya melancarkan Jihad dan Perang dalam bentuk yang OFENSIF terhadap kerajaan demokrasi atau mana-mana kerajaan manusia yang MENGABDIKAN MANUSIA KEPADA KEKUASAAN MANUSIA seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini atau mana-mana kerajaan sekalipun yang memerintah dengan undang-undang manusia dan tidak memerintah dengan undang-undang Allah.
Firman Allah: al-Baqarah 193 Dan berperanglah sehingga tiada lagi fitnah (penindasan) dan jadilah agama untuk Allah.
"Fitnah" di sini dimaksudkan kepada penindasan, iaitu penindasan dalam bentuk peraturan dan undang-undang manusia yang berdaulat dan berkuasa ke atas manusia. “Fitnah” wujud dalam kerajaan demokrasi Malaysia kita ini kerana peraturan dan undang-undang yang wujud dan beroperasi dalam kerajaan kita kini adalah peraturan dan undang-undang manusia. Selagi mewujudnya “fitnah” dalam sistem politik demokrasi Malaysia kita ini, selama itulah Jihad, Perang dan Revolusi adalah diperintahkan ke atas kita. Keruntuhan dan kehancuran kerajaan demokrasi kita ini melalui Jihad, Perang dan Revolusi bererti terbentuknya kerajaan Islam atau sistem khilafah. Ayat-ayat Jihad dan Perang seperti mana yang sedang kita bicarakan di sini adalah ayat-ayat yang UMUM, TETAP, FINAL dan MUKTAMAD yang diperintahkan ke atas seluruh umat Islam kita dan untuk sepanjang masa.
|
| |