Namanya Masjid Al-Ikhlas. Dari nol kami berjuang. Sebelum ada masjid, shalat dan pengajian kami lakukan di lapangan bulutangkis yang waktu itu masih berupa tanah kosong. Proses cukup panjang kami lalui; dari pengumpulan tanda tangan warga hingga persetujuan walikota, termasuk saat menghadapi warga (non) yang tidak setuju ada masjid di komplek kami. Alhamdulilah itu semua bisa kami lalui dengan baik. Sedikit demi sedikit dana terkumpul, masjid pun dibangun. Meski pembangunan belum selesai, namun kami telah memanfaatkannya secara maksimal.
Alhamdulillah.. Semoga masjidnya bisa menjadi pusat kegiatan Islam, bisa makmur. Jangan sampai jadi masjid besar yang melompong sepi sunyi sering terkunci he he..
Alhamdulillah, Itulah perjuangan yang manis, semoga setelah berdiri akan semakin berfungsi sebagaimana mestinya yaitu untuk beribadah dalam arti yang lebih luas. Bukan jadi ajang persaingan cari kekuasaan dan "kekayaan" sehingga ummat terbengkalai, inilah yang terjadi dibanyak masjid di negara kita. Baarakallaah
Alhamdulillah.. Semoga masjidnya bisa menjadi pusat kegiatan Islam, bisa makmur. Jangan sampai jadi masjid besar yang melompong sepi sunyi sering terkunci he he..
Amin. syukron akhi atas doanya... barakallahu fik...
Alhamdulillah, Itulah perjuangan yang manis, semoga setelah berdiri akan semakin berfungsi sebagaimana mestinya yaitu untuk beribadah dalam arti yang lebih luas. Bukan jadi ajang persaingan cari kekuasaan dan "kekayaan" sehingga ummat terbengkalai, inilah yang terjadi dibanyak masjid di negara kita. Baarakallaah
masjid ini ajang persaudaraan dalam keimanan. insya Allah persaudaraan karena iman tak kan lekang oleh zaman dan godaan. syukron pak doanya. barakallahu fik...
walau dengan perjuangan keras, akhirnya berhasil juga.. selamat. Mau tanya.. kenapa non muslim nya keberatan atas pembangunan mesjid tersebut?
bisa dimaklumi mbak. waktu kami beli rumah, kami nanya ada masjid tidak? jawaban developernya; gak ada, musholla juga gak ada, yg ada cuma fasum dan fasos, non tempat ibadah.
tapi setelah komplek ditempati, ternyata banyak warga yg muslim. kebetulan waktu itu pas mau ramadhan 1428 H. warga muslim pun minta ke developer agar sebagian tanah yg kosong dikasih semen (tegel semen) seadanya. kita bilang untuk tarawih dan subuhan aja selama ramadhan. waktu itu saya yg imam, kalo kebetulan gak ngundang penceramah dari luar. dan hampir tiap abis tarawih dan shalat subuh -kalo lagi di tempat n gak ada penceramah dari luar- saya ceramah.
setelah ramadhan (baca: setelah pada balik dari mudik), kita ngadain halal bi halal di tanah kosong itu. pengajian tiap ahad abis subuh juga jalan terus. tanah kosong itu pun lalu dijadiin lapangan badminton. lantainya diperbagus tentu. pencahayaan juga. sebetulnya kita sama sekali tidak terganggu dengan lapangan bulutangkis ini (wong saya juga sering main), tapi setidaknya ini bisa jadi alasan untuk meminta pada developer agar kita dikasih tempat/tanah kosong untuk musholla.
developer kasih izin dan tempat untuk musholla. kita pun bikin edaran, minta tanda tangan warga. tapi tanda tangan kesediaan untuk mendirikan masjid di komplek. bukan musholla. kita keukeuh mau mendirikan masjid saja. di sini mulai muncul percik api itu. tidak semua non-muslim tidak setuju sih... banyak yg setuju. tapi percikan dan tentangan itu terasa adanya.
bismillah. kita jalan terus... developer sampai pernah memanggil beberapa orang non-muslim ke kantor; minta kesaksian dan menanyakan persetujuan mereka; terpaksa apa tidak. akhirnya developer menyetujui dibangun masjid di komplek, tapi developer hanya memberi lahan, bukan bangunan. alhamdulillah semuanya berjalan baik2 aja...
astaghfirullah, yg berjuang membuat papan ini bukan saya mbak. tapi salah seorang warga. dia mungkin "gerah" dengan izin pembangunan masjid yg sempat molor dan munculnya issu "panas" yg agak nyerempet sara waktu itu. saya bilang ke dia dan ke warga: "bismillah, pasang aja." papan pun dipasang.